Tuberkulosis pada Anak: Kenali Lebih Dini!

Dokter Raditya Bayu Erlangga, mahasiswa PPDS Sp-1 Ilmu Kesehatan Anak, FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo berpartisipasi aktif pada kegiatan e-poster “13th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Pediatric Society (13th PIT IKA)” melalui karya ilmiahnya yang berjudul “Clinical profile of children with pulmonary tuberculosis in RSUD Dr. Soetomo” yang diselenggarakan di Malang pada 13 Oktober 2025.
Tuberkulosis (TB) hingga saat ini masih menjadi tantangan kesehatan global, terutama di daerah dengan fasilitas kesehatan yang terbatas. Resiko penularan TB sangat besar pada anak yang terpapar kasus aktif, yang seringkali terjadi akibat kontak dekat dengan orang dewasa yang terinfeksi.
Menegakkan diagnosis TB pada anak tidak mudah karena gejalanya yang bervariasi, yang dapat menyerupai penyakit lainnya. Hingga saat ini, TB paru pada anak tetap menjadi penyebab utama morbiditas di Indonesia, namun profil klinis lokal masih terbatas. Pada studi ini didapatkan mayoritas TB paru terjadi pada kelompok usia 0–4 tahun (39,3%) dengan riwayat kontak TB dalam rumah tangga tercatat pada 26,4% kasus. Kuman Mycobacterium tuberculosis terdeteksi pada 38,0% kasus dengan resistensi rifampisin ditemukan pada 17,3% kasus.
Dokter Bayu menjelaskan bahwa evaluasi TB paru pada anak menunjukkan distribusi usia yang luas, representasi jenis kelamin yang hampir sama, prevalensi kekurangan gizi yang tinggi, dan tingkat konfirmasi mikrobiologis yang moderat pada uji molekuler cepat. Proporsi resistensi rifampisin yang diamati menyoroti kebutuhan akan uji resistensi obat yang tepat waktu.
Penulis: Rendi_pediatri