Desember 13, 2024

Menuju Indonesia bebas Tuberkulosis!

Dalam rangka menuju Indonesia bebas Tuberkulosis (TB), tim dari divisi respirologi anak, FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo (Dr. dr. Retno Asih Setyoningrum, SpA(K), dr. Arda Pratama Putra Chafid, SpA, dan dr. Rika Hapsari, M.Ked.Klin, SpA) bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Jawa Timur melakukan kegiatan sosialisasi pencegahan, penemuan, hingga tatalaksana secara dini TB pada anak yang dihadiri oleh tenaga kesehatan dan kader posyandu di Surabaya.

Data WHO tahun 2022 menyebutkan terdapat 26,3 juta juta kasus TB di seluruh dunia. Tuberkulosis pada anak mencapai 10-20% dari seluruh kasus, dengan 1,9 juta anak didapatkan sakit TB dan mendapatkan terapi anti TB. Menurut WHO, sekitar 7,5 juta anak usia 0-14 tahun terinfeksi TB setiap tahunnya (TB laten), dan hingga 1 juta diantaranya berkembang menjadi TB aktif yang sebagian besar berusia kurang dari 5 tahun.

Tuberkulosis pada anak hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan global, menyebabkan penyakit serius, hingga komplikasi yang berat jika tidak segera terdiagnosis dan mendapatkan terapi. Tuberkulosis disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis (MTB) dan menular secara droplet. Tuberkulosis menyumbang atas lebih dari 200.000 kematian anak, dengan angka kematian tertinggi terjadi pada anak usia di bawah 5 tahun. Menurut WHO, Indonesia memiliki angka kejadian TB tertinggi kedua di dunia (312 per 100.000 penduduk) dan menyumbang 8,5 persen dari kasus global.

Menurut dr. Retno, langkah-langka pencegahan TB perlu dilakukan sejak dini, seperti skrining anak dengan kontak TB (kontak erat dengan penderita TB yang sudah dewasa) agar dapat ditemukan lebih awal kasus anak yang menderita TB dan dapat dilakukan pengobatan lebih awal. Selain itu, anak yang tidak ditemukan menderita TB namun memiliki kontak erat mendapatkan terapi pencegahan TB. Tak hanya pencegahan, manajemen TB yang mencakup diagnosis, pengobatan, pencatatan dan pelaporan tuberkulosis pada anak secara rutin sebaiknya dilakukan sesuai dengan standar dan pedoman nasional yang digunakan saat ini. Sementara itu, diagnosis dan pengobatan TB yang resistan terhadap obat pada anak harus dilakukan di pusat rujukan.

Penulis: Rendi_pediatri