Februari 10, 2023

Unggul Dalam Rekayasa Jaringan Sel Punca, FK UNAIR Buka Prodi Spesialis 2 Orthopaedi & Traumatologi

Departemen Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) unggul dalam pengembangan Jaringan Sel Punca (Stem Cell). Produk ini bahkan sudah mengantongi Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan dikembangkan secara masal. Menjadi satu-satunya Departemen Orthopaedi & Traumatologi di Indonesia yang menghasilkan produk medis.

Dengan reputasi yang baik ini, Departemen Orthopaedi & Traumatologi terus melakukan pengembangan. Salah satunya dengan membuka Program Studi Spesialis 2. Prodi ini akan menerima 10 peserta didik di tahun ini.

Koordinator Program Studi (KPS), Dr. Lukas Widhiyanto, dr., SpOT(K) menuturkan, selain pengembangan jaringan sel punca, Departemennya juga unggul dalam pengembangan biomaterial.

“Untuk kedua hal ini kami menjadi pionir di Indonesia dan satu-satunya hingga saat ini,” ujarnya ditemui seusai Assesmen Lapangan Akreditasi LAM- PT-Kes pertamanya, Kamis, 02 Februari 2023..

Lukas menjelaskan, Prodi Spesialis 2 merupakan pendalaman dari Prodi Spesialis 1. Mencakup 5 peminatan antara lain Lower extremity & Joint reconstruction, Upper Extremity & Microsurgery, Oncology Muskologenetal, Spine dan Pediatric orthopaedi.

“Sebenarnya ini bukan program baru. Tapi karena perubahan revolusi peraturan perundangan. Dari yang sebelumnya pendidikan dasarnya kolegium base jadi university base. Subspesialis merupakan pendalaman dari pendidikannya,” paparnya.

Lucas optimis, adanya prodi baru ini bisa semakin mengangkat unggulan bidang studi FK UNAIR. Khususnya di bidang ilmu Orthopaedi & Traumatology. Karena dengan kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, semakin dirasakan kebutuhan pelayanan dalam bidang ini. Apalagi masalah kesehatan muskolokeletal semakin kompleks dan membutuhkan penanganan dari ahlinya.

Dari Prodi Spesialis 1 Orthopaedi & Traumatologi memiliki hubungan yang sangat baik dengan mitra luar negeri. Seperti diantaranya dari Malaysia, Singapura, Australia dan Amerika Serikat. Bahkan ujian nasional juga dengan penguji-penguji dari kampus luar negeri. Ini akan Dilanjutkan di program subspesialis.

“Sejak mulai spesialis 1 kita sudah benchmarking dengan luar negeri. Sehingga berdasarkan itu standar kita tidak kalah dengan luar negeri. Paling tidak dengan negara di wilayah Asia Pasifik,” tukasnya.

Penulis : Ismaul Choiriyah