November 13, 2022

Tingkatkan Kesadaran Tentang Bahaya Gangguan Neuro-psikiatri pada Ekonomi Dunia, FK UNAIR – SBMT Gelar N20 di Bali

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bekerjasama dengan Society for Brain Mapping and Therapeutics (SBMT) menggelar Neuroscience20 (N20) ke-9 di Nusa Dua, Bali, 13-14 November 2022. N20 merupakan pertemuan tahunan yang membahas mengenai otak, tulang belakang dan kesehatan mental. Forum inisiasi SBMT diharapkan meningkatkan kesadaran tentang biaya gangguan neuro-psikiatris terhadap ekonomi dunia.

Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG, Subs.F.E.R. menuturkan, masalah kesehatan yang berkaitan dengan otak seperti stroke, kelainan-kelainan neurologi serta kesehatan mental menjadi masalah yang tidak mudah untuk negara. Karena sering bersifat kronis dan mengancam nyawa, beban negara untuk penanganan penyakit ini pun berat.

Karenanya, program pemerintah pun sekarang menempatkan penanganan penyakit otak dalam hal ini stroke ke dalam 9 penyakit prioritas yang ingin ditangani bersama.

Keseriusannya ini ditunjukkan salah satunya di Surabaya, Jawa Timur, Kemenkes baru saja melakukan peletakan batu pertama pembangunan Tower Rumah Sakit Katostropik atau penyakit yang membutuhkan perawatan lama dengan biaya tinggi, salah satunya stroke.

Begitupula masalah kesehatan mental. Semakin kesini, angka bunuh diri makin tinggi. Juga depresi yang menyebabkan ketidakmampuan seorang untuk produktif. Jika tidak ditangani, ini juga bisa menjadi beban pemerintah ke depannya.

“Melalui forum N20, kami bersama-sama berkomitmen untuk bertukar ide, dan mendiskusikan inovasi terbaru yang dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk mendukung pengembangan pendekatan strategis jangka panjang dalam rangka mengurangi beban global yang diakibatkan oleh pembiayaan perawatan kesehatan terkait gangguan neurologis,” terang dekan.

Selain itu, pertemuan ini juga untuk membahas strategi yang optimal untuk meningkatkan efisiensi dan aksesibilitas perawatan kesehatan serta diagnosa dan terapi yang terjangkau di seluruh dunia.

G20 merupakan momentum baik bagi semua pihak untuk berdiskusi untuk kebaikan untuk berbagai aspek ke depan. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga berkomitmen untuk terus berkontribusi aktif dalam setiap inisiatif semacam ini, khususnya yang berkaitan dengan penguatan pendidikan kesehatan demi dapat memprediksi, mencegah, mendeteksi dan merespon risiko kesehatan global dan keadaan darurat, baik di masa sekarang, maupun yang akan datang.

Ketua N20 ke-9, Dr. dr. Asra Al Fauzi, SE, MM, Sp.BS (K), FICS, IFAANS menambahkan,N20 sebagai sebuah gerakan inisiatif komunal dari para neurosaintis dari seluruh dunia memiliki peran penting untuk turut berpartisipasi aktif, tak hanya dalam menghadapi tantangan neurosains secara global tapi juga mengembangkannya menjadi lebih baik.

Para neurosaintis ini sangat perhatian mengenai hal ini karena penyakit-penyakit ini kritis, membutuhkan waktu lama dalam penanganan dan memakan biaya besar. Misalnya stroke yang selalu berakhir kepada kecacatan, kematian dengan biaya tinggi untuk operasi melakukan diagnostik dan lain-lain.

Stroke adalah penyebab kematian nomor 1 di Indonesia selain kanker dan jantung. Stroke juga menyedot anggaran terbesar nomor 3 di Indonesia. Sehingga jadi beban bagi pemerintah.

“Kami menghadirkan beberapa ahli dari negara G20 untuk kami ajak berdiskusi kemudian menghasilkan rekomendasi terkait pelayanan bedah saraf yang efektif, efisien, terjangkau terutama untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia,” tambahnya.

Pendiri SBMT, Dr. Babak Kateb menambahkan, dari pertemuan ini diharapkan akan lahir rekomendasi untuk diajukan pada pemangku kebijakan mengenai penanganan penyakit-penyakit neurosains. Salah satu hal yang utama adalah bagaimana memperbaiki infrastuktur data di Indonesia.

“Kelengkapan data menjadi masalah yang dihadapi beberapa negara seperti Indonesia.
“Sebagai contoh di Indonesia dengan 270 juta jiwa penduduk dan beragam ini, data mengenai penyakit stroke juga harus terdeteksi. Misalnya dari suku mana penyakit didominasi, penduduk usia berapa, penyebabnya dan sebagainya,” jelasnya.

Pengobatan berbasis data ini penting, untuk menentukan langkah preventif dan kuratif yang lebih presisi.

“Ini yang akan kami mintakan usulan dari World Bank untuk pendanaan agar ada Big Data analisis di negara-negara Asia Pasifik sebagai acuan pengobatan ke depan,” tukasnya.

Diinisiasi sembilan tahun lalu, Neuroscience20 (N20) berfokus untuk mempromosikan rekomendasi kepada para pemimpin global dan pemimpin Kelompok Dua Puluh (G20) tentang urgensi yang ditimbulkan akibat pembiayaan terkait gangguan neurologis, tulang belakang, dan mental di seluruh dunia.

Gangguan neurologis berdampak signifikan terhadap ekonomi dunia karena sifatnya yang seringkali membuat keadaan kronis dan mengancam jiwa, dan karena itu, turut menyumbang beban global baik secara social maupun ekonomi. Negara-negara anggota G20, yang mewakili ekonomi paling signifikan secara global, diundang untuk bersama-sama merumuskan rencana untuk mengatasi beban ini. N20 sebuah inisiatif dari Society for Brain Mapping and Therapeutics (SBMT), yang tahun ini bekerjasama dengan Universitas Airlangga – berada di garis depan kolaborasi di seluruh dunia ini untuk secara komprehensif meningkatkan kesadaran tentang gangguan otak, tulang belakang, dan mental (neurosains). (ISM)