Juli 4, 2024

Tim Kardiologi Anak FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo, Surabaya: Deteksi Dini dan Turunkan Mortalitas Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Penyakit Jantung Bawaan atau PJB adalah kelainan struktur jantung yang terjadi sejak bayi dilahirkan. Prevalensi PJB pada anak cukup tinggi, namun ketersediaan pelayanan jantung anak masih terbatas dan belum merata di seluruh Indonesia. Walaupun PJB sudah terjadi sejak lahir, namun demikian angka keterlambatan rujukan PJB masih seringkali terjadi. Padahal, deteksi dini PJB bisa dilakukan setelah bayi dilahirkan, salah satunya dengan menggunakan pulse oxymetri. Jika terlambat ditangani, PJB dapat menyebabkan kesakitan hingga kematian pada anak.

Deteksi Dini PJB di Madiun

Ada tiga tatalaksana utama PJB, yaitu deteksi dini, penangan awal, dan rujukan tepat waktu. Oleh karena itu sosialisasi deteksi dini PJB pada tenaga kesehatan hingga masyarakat sangat penting. Tanda-tanda awal suatu PJB perlu disosialisasikan secara meluas di seluruh wilayah Indonesia. Saat ini, UKK Kardiologi Anak rutin mengadakan pelatihan skrining PJB berupa pelatihan pemeriksaan saturasi dan pelatihan ekokardiografi dasar untuk para dokter dan paramedis. Begitu halnya dengan Divisi Kardiologi Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo, Surabaya yang terdiri dari Prof. Dr. dr. Teddy Ontoseno, SpA(K), SpJP, FIHA, Dr. dr. Mahrus A Rahman, SpA(K), Dr. dr. I Ketut Alit Utamayasa, SpA(K), dr. Taufiq Hidayat, SpA(K), dan dr. Henri Wicaksono, M.Ked.Klin, SpA dalam kegiatan pengabdian masyarakatnya, selalu mengajak para tenaga kesehatan di daerah dan masyarakat untuk mengenali PJB pada anak sejak dini dan telah dilakukan berbagai kota, antara lain Lumajang, Jember, Probolinggo, Bojonegoro, Kediri, Banyuwangi, Madiun, hingga Sampang, Pulau Madura.

Deteksi Dini PJB di Sampang

Selain aktif melakukan sosialisasi dan pelatihan deteksi dini PJB, tim kardiologi anak FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya juga membangun kolaborasi dengan tim kardiologi dewasa. “Saat ini, kasus Penyakit Jantung Bawaan cukup tinggi, yaitu 50 ribu bayi lahir dengan PJB dalam setahun di Indonesia. Namun demikian, jumlah dokter spesialis anak konsultan jantung anak masih terbatas, selain itu kapasitas intervensi bedah atau non bedah juga belum optimal, sehingga masih banyak kasus PJB yang tidak tertangani pada masa anak dan pada saat dewasa masih memiliki masalah jantung yang belum terselesaikan. Oleh karena itu, kolaborasi dari tim kardiologi anak dan kardiologi dewasa, FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo, Surabaya diharapkan memperbaiki luaran pada adult congenital heart disease. Dengan kolaborasi ini, kami berharap akan lebih cepat menurunkan angka kematian akibat PJB di Indonesia”, pungkas Dr. dr. I Ketut Alit Utamayasa, SpA(K) selaku konsultan kardiologi anak di FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.