April 22, 2024

Sukseskan Deteksi Dini Atresia Bilier di Puskesmas Kangayan, Pulau Kangean, Madura

Atresia bilier adalah penyakit yang disebabkan gangguan aliran empedu. Atresia bilier dapat menyebabkan gagal hati kronis dan merupakan penyebab utama transplantasi hati pada anak. Menurut Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K) konsultan gastrohepatologi anak, atresia bilier jarang terjadi, namun angka keterlambatan rujukan masih cukup tinggi sehingga seringkali pasien datang sudah dengan disertai tanda dan gejala gagal hati kronis. Oleh karena itu, deteksi dini adalah kunci utama keberhasilan pengobatan atresia bilier.

Sosialisasi deteksi dini atresia bilier pada bayi di Puskesmas Kangayan adalah rangkaian kegiatan pengabdian Masyarakat Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr SoetomoFK UNAIR, Surabaya bekerja sama dengan RSUD Abuya di Pulau Kangean, Sumenep, Madura. Perjalanan dari RSUD Abuya, Kecamatan Arjasa menuju Puskesmas Kangayan, Kecamatan Kangayan ditempuh sekitar 1,5 jam dan sebagian melewati hutan jati dan jalan berbatu. Kegiatan ini diikuti oleh para tenaga kesehatan di Puskesmas Kangayan, Kec. Kangayan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur yang terdiri dari dokter, bidan, dan perawat pada hari Sabtu, 20 April 2024. Dalam kegiatan sosialisasi ini, peserta dikenalkan dengan kartu warna tinja sebagai alat skrining atresia bilier.

Pembagian buku ayo deteksi dini atresia bilier

Skrining atresia bilier dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan pemeriksaan kadar bilirubin dan kartu warna tinja. Pemeriksaan kadar bilirubin tidak selalu dapat dilakukan mengingat keterbatasan fasilitas di daerah, oleh karena itu tim dari Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR dan RSUD Abuya, Pulau Kangean menekankan penggunaan kartu warna tinja karena sangat mudah, tidak membutuhkan biaya, dan bisa diterapkan di masyarakat secara langsung dalam salah satu pemantauan bayi kuning. Kartu warna tinja tersebut dibuat berdasarkan pengalaman di lapangan pada pasien dengan atresia bilier. Pada kartu warna tinja “lokal” tersebut, warna tinja dikelompokkan menjadi 3, yaitu normal, waspada, dan tidak normal. Jika ditemukan bayi kuning dengan warna tinja pada kategori “waspada” dan “tidak normal”, maka segera periksakan bayi ke fasilitas kesehatan terdekat. Pada kategori warna tinja “waspada”, tinja tampak berwarna pudar namun belum pucat seperti dempul. Seringkali orangtua baru membawa berobat anaknya setelah didapatkan perubahan warna tinja menjadi putih seperti dempul. Penemuan secara dini bayi kuning dengan perubahan warna tinja yang tampak memudar dibanding sebelumnya tanpa menunggu warna tinja pucat sangat penting karna diharapkan deteksi dini atresia bilier dapat dilakukan. Proses perubahan warna tinja menjadi putih, pucat, seperti dempul biasanya tidak langsung terjadi, oleh karena itu pemantauan warna tinja perlu dilakukan pada setiap bayi lahir yang diikuti dengan keluhan kuning, ujar dr. Rendi Aji Prihaningtyas, M.Ked.Klin, SpA selaku narasumber.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, diharapkan nantinya dapat dibentuk jejaring antara Divisi Hepatologi Anak, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR dengan RSUD Abuya dan Puskesmas di Pulau Kangean. Dengan adanya jejaring tersebut, diharapkan penemuan dini bayi dengan kuning yang tidak normal dapat dilakukan tanpa menunggu pasien berobat dulu di pusat rujukan karena berbagai keterbatasan yang ada.

April 22, 2024 News