September 1, 2022

Prof Miftah : Guru Besar Bukan Puncak, Tapi Awal Karir

Prof Miftah bersyukur, proses perolehan gelar guru besar bisa didapatkan di usia muda. Jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang untuk menjadi guru besar butuh waktu lama.

Hal ini tentu menguntungkan karena semakin muda gelar didapat, masa mengabdi sebagai “guru”, berkarya memberikan perubahan pada kemajuan ilmu pengetahuan juga semakin panjang.

“Seorang guru besar di FK UNAIR dulu biasanya dicapai di usia yang cukup senior. Guru besar menjadi puncak karir. Seharusnya guru besar mari kita capai di usia muda sehingga bisa dicapai di awal karir, awal pencapaian. Sehingga berikutnya bisa menjadi pribadi lebih unggul,” terangnya.

Banyak hal yang ingin Prof Miftah kerjakan setelah menyandang gelar guru besar ini. Pertama adalah lebih banyak memberikan manfaat kepada masyarakat. Misalnya dengan banyak menuliskan opini koran, mengisi seminar dan lain sebagainya.

Di sisi lain ia juga ingin banyak memperbaiki buku ajar kepada mahasiswa karena sejatinya, guru besar memiliki peran untuk mengajar

Ia juga ingin menciptakan berbagai inovasi produk.

“Selama ini saya masih fokus pada publikasi. Karena saya memang suka menulus. Tapi saya menyadari itu masih seperti menara mercusuar. Oleh karena itu saya ingin berbuat lebih banyak kepada masyarakat dan pendidikan,” terangnya ditemui setelah prosesi pengukuhan guru besar, Rabu 31 Agustus 2022 di UNAIR.

Target dan tanggung jawab besar dalam menyandang gelar baru ini juga lah yang membuat hatinya bergetar selama menjalani prosesi.

“Hati saya bergetar saat lagu Indonesia raya diputar hingga saat saya memberikan sambutan. Saya berharap, apa yang diamanahkan kepada saya bisa saya jalani dengan sebaik mungkin,” tukasnya. (ISM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *