Februari 12, 2024

Peringatan Hari Epilepsi Internasional 2024: Edukasi antara Stigma, Mitos dan Fakta

Tanggal 12 Februari 2024 merupakan hari Epilepsi Internasional (International Epilepsy Day). Epilepsi merupakan kasus neurologis yang memerlukan penanganan semua pihak.

Jumlah pasien Epilepsi diperkirakan 1,5 juta dari total penduduk Indonesia dan dialami oleh laki, perempuan, berbagai ras dan usia.

Kekurangan edukasi dan adanya stigma sosial terhadap pasien epilepsi merupakan hambatan dalam penanganan epilepsi.

Untuk itulah, pada Senin, 12 Februari 2024, departemen neurologi FK Universitas Airlangga/ RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengadakan penyuluhan tentang epilepsi kepada pasien dan keluarga di Poli syaraf lantai 3.

Dr Qisti Ashari, PPDS neurologi dan tim melakukan kegiatan berupa edukasi dan membagikan brosur tentang epilepsi.

Epilepsi merupakan gangguan fungsi otak yang ditandai dengan kejang berulang lebih dari 24 jam. Diterangkan juga bahwa epilepsi tidak menular ke orang lain.

Epilepsi dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan merusakan otak, keturunan (genetik), infeksi, gangguan imun, metabolisme. Namun 60% penyebab epilepsi tidak diketahui (idiopatik).

Bermacam jenis kejang pada epilepsi, seperti kejang umum (misal berupa kejang seperti melamun, kelonjotan). Jenis kejang lain dapat berupa penurunan kesadaran, bingung sementara, gangguan sensasi (penglihatan, pendengaran, pengecapan) dan lain-lain.

Kejang pada epilepsi juga ada pemicunya, misal cahaya, suara bising berlebih, demam, stress berlebih, kurang tidur, lupa minum obat. Pemicu lain yakni gangguan hormonal (misal menstruasi), konsumsi obat dan alkohol.

Pada pasien dengan epilepsi supaya tidak terjadi kejang selain minum obat teratur, juga perlu mencegah cedera otak. Pasien tetap boleh berolahraga, makan bergizi. Cara cegah kejang lain seperti jaga kesehatan saat hamil.

Pasien juga sering bertanya kapan berhenti minum obat? biasanya bila minimal 2 tahun bebas kejang, dokter akan melakukan perekaman otak (EEG). Selanjutnya penurunan dosis obat dilakukan bertahap sesuai konsultasi dengan dokter neurologi.

Data menyebutksn bahwa sekitar 70% pasien epilepsi dapat hidup bebas kejang. Walaupun tidak semua sembuh total, epilepsi dapat diobati dan dikontrol supaya tidak kambuh.

Beberapa mitos, masyarakat menganggap bahwa kejang disebabkan roh jahat sehingga hasus dibawa ke dukun. Fakta yang tepat adalah kejang disebabkan gangguan kelistrikan di otak dan memerlukan penanganan secara medis.

Ada anggapan bahwa pasien epilepsi tidak dapat berprestasi. Namin fakta menyebutkan bahwa orang dengan epilepsi masih dapat berprestasi seperti orang lain.

Terakhir disampaikan bahwa masyarakat juga sangat berperan dalam penanganan kejang pasien epilepsi.

Saat pasien kondisi kejang, pertolongan awal sebagai berikut: Tetap tenang dan dampingi pasien. Longgarkan pakaian, bebaskan jalan nafas. Kemudian catat dan perhatikan durasi kejang dan hal lain yang terjadi. Jauhkan pasien dari benda yang menimbulkan cedera dan benda tajam. Bila perlu, miringkan dan tenangkan pasien sampai pulih.

Hindari menahan atau mengikat pasien. Hindari pula memberikan makanan atau minuman pada pasien yang tidak sadar.

Bila kejang berlangsung lama lebih dari 5 menit atau ragu dengan yang akan dilakukan, segera hubungi ambulans. Segera hubungi ambulans juga bila pasien epilepsi sulit bernafas, kejang dalam air atau pasien sedang hamil.

Semoga bermanfaat

Penulis:
Mohammad Saiful Ardhi/ Ersyifa Fatimah/ Wardah Rahmatul Islamiyah/ Hanik Badriyah Hidayati