Agustus 11, 2022

Penjelasan Pakar FK Unair tentang Empty Sella Syndrome di Dokter Unair TV

SURABAYA – Empty Sella Syndrome merupakan merupakan suatu kondisi yang langka di mana kelenjar pituiteri yang memproduksi berbagai hormon penting dalam tubuh tertekan atau mengecil.

Sehingga mengganggu produksi hormon sehingga menimbulkan keluhan pada pasien. Ini disampaikan oleh Ahli Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), Dr dr Hermina Novida, SpPD, K-EMD, FINASIM di DokterUnairTV, 5 Agustus 2022.

Dikatakannya,  beberapa hormon yang dihasilkan dari kelenjar pituiteri antara lain growth hormon yang mengatur pertumbuhan manusia. Ini sangat penting terutama saat pertumbuhan.

Kemudian hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang mempengaruhi produksi kortisol, atau hormon stress. Selanjutnya hormon TSH, hormon yang memproduksi kelenjar tiroid untuk pemproduksi hormon tiroid. Serta Hormon FSH dan LH yang akan mempengaruhi fungsi reproduksi. Sehingga otomatis mereka akan mempengaruhi hormon estrogen, testosteron dan progesteron pada perempuan maupun laki-laki. Berikutnya adalah hormon prolaktin yang mempengaruhi produksi air susu.

“Semua hormon diatas dihasilkan oleh pituitore anterior atau pituitero bagian depan,” ujarnya.

Sementara hormon yang dihasilkan oleh kelenjar pituiteri bagian belakang (posterior) antara lain hormon ADH yang mempengaruhi produksi kencing dan hormon oksitosin yang berperan pada kontraksi uterus.

Empty Sella Syndrome terjadi jika cairan cerebruspinal bocor ke dalam fosa hipofisis sehingga menekan kelenjar pituiteri sehingga menyebabkan kelenjar memipih. Penyebab adanya cairan yang menekan ini bisa dibagi menjadi dua yakni primer maupun sekunder.

“Primer berarti dia sudah bawaan sejak anak-anak. Bisa sejak lahir maupun karena infeksi,” terangnya.

Juga karena kondisi sekunder misalnya jika terjadi tumor di otak maupun di hipofisis.  radiasi,  luka atau trauma serta perdarahan hebat pada ibu hamil juga bisa menjadi penyebab gangguan ini.

Empty Sella Syndrome sering terjadi pada wanita terutama wanita yang mengalami obesitas dan mengalami hipertensi. Namun tidak menutup kemungkinan laki-laki juga mengalami sindrom ini.

Gejala

Jika tekanan pada kelenjar pituiteri tidak begitu besar, pasien bisa jadi tidak mengalami keluhan. Namun jika tekanan  besar akan muncul keluhan. Misalnya gangguan pandang, mual, muntah dan sakit kepala.

“Juga gejala karena gangguan hormon bisa karena hormon berlebihan atau yang lebih sering berkurang karena dia kan tertekan, nah gejala defisiensi hormon ini juga bergantung pada hormon apa yang ditekan,” tambahnya.

Misalnya kekurangan hormon ACTH maka produksi kortisol menurun. Sehingga menyebabkan kondisi krisis adrenal yang penyebabnya hipoglikemi, mual, muntah yang membutuhkan penanganan intensif. Ini yang menyebabkan pasien gangguan ini masuk ICU.

Misalnya yang terganggu hormon tiroid maka gejala yang muncul bisa hipotiroid, kenaikan berat badan tanpa sebab, jantung melambat, peningkatan kadar kolesterol, tidak tahan dingin, konstipasi kulit dan rambut kering dan lain sebagainya.

Jika yang ditekan hormon reproduksinya, maka yang terganggu kemampuan reproduksinya. Seperti gangguan libido, impitensi, gangguan infertilitas dan gangguan menstruasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *