Mei 31, 2024

Pantau Warna Tinja pada Bayi Kuning, Mengapa Penting?

Divisi hepatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya melakukan sosialisasi kartu warna tinja untuk deteksi dini atresia bilier di Puskesmas Prambon, Sidoarjo pada Senin, 27 Mei 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh 40 orang tua dan tenaga kesehatan. Sosialisasi ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan terutama pada masyarakat tentang bayi kuning.

“Saat ini di masyarakat, bayi kuning dianggap hal normal dan tidak perlu pemantauan, cukup dijemur-jemur saja dan diberi minum ASI yang banyak. Padahal, tidak semua bayi kuning akan sembuh dengan sendirinya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika masih sering terjadi keterlambatan rujukan bayi dengan atresia bilier. Sebagian besar orangtua sudah mengetahui bayinya kuning tak kunjung membaik, namun tidak dibawa berobat karna dianggap hal yang normal ditunggu sampai usia 2-3 bulan tidak membaik, baru berobat, ada lagi yang sudah berobat namun dikatakan kurang minum kurang jemur dan tidak ada kelanjutannya padahal bayi masih kuning pada usia diatas 2 minggu”, terang dr Rendi Aji Prihaningtyas, M.Ked.Klin, SpA selaku narasumber.

Bersama para peserta sosialisasi di Puskesmas Prambon, Sidoarjo

Deteksi dini atresia bilier merupakan tantangan yang sampai saat ini masih seringkali terjadi. Sebagian besar kuning pada bayi menghilang pada usia 2 minggu. Oleh karena itu, jika masih didapatkan kuning pada bayi yang berusia diatas 2 minggu, maka disarankan untuk dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total pada darah untuk memastikan ada tidaknya kolestasis yang dapat ditandai dengan peningkatan kadar bilirubin direk > 1 mg/dL. Secara klinis sulit dibedakan kuning pada bayi akibat kondisi yang normal atau kondisi yang tidak normal yang disebabkan oleh gangguan aliran empedu (kolestasis). Atresia bilier dapat menyebabkan kerusakan hati dan membutuhkan transplantasi hati jika terlambat ditangani.

“Dulu dikatakan bahwa tatalaksana atresia bilier terbaik pada usia dibawah 2 bulan, saat ini semakin muda semakin baik”, ucap Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K) selaku konsultan gastrohepatologi di FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Oleh karena, deteksi dini adalah kunci utama kebehasilan penanganan atresia bilier dan mampu menghindarkan pasien dari kebutuhan transplantasi hati. Dengan memantau warna tinja dengan kartu warna tinja, diharapkan deteksi dini dapat dilakukan. Jika didapatkan bayi masih kuning pada usia > 2 minggu atau sebelum itu disertai perubahan warna tinja yang semakin memudar, maka jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total pada darah. Jika didapatkan kadar bilirubin direk > 1 mg/dL, maka evaluasi lanjutan diperlukan untuk memastikan ada tidaknya gejala dan tanda atresia bilier.