Juni 20, 2024

Neonatal alloimmune thrombocytopenia acquired dengue infection dan osteogenesis imperfecta pada neonatus: Pentingnya deteksi dini dan intervensi yang tepat

Kegiatan ilmiah 8th Annual Neonatology Update (ANU 2024) dengan tema “Collaboration Intervention in Early Life for Better Future” sukses diselenggarakan pada 05 – 08 Juni 2024 di Claro Hotel, Makassar. Masalah kegawatdaruratan pada neonates masih banyak dihadapi, terutama oleh tenaga kesehatan di daerah. Penyulit prematuritas, penyulit persalinan dan infeksi merupakan penyebab utama kematian pada nenatus.

Kegiatan ANU 2024 ini diikuti oleh dokter spesialis anak di seluruh Indonesia, tak terkecuali dr. Birgitta Suparman Supa Atmaja, dr. Raissa Virgy Rianda, dr Perez Wahyu Purnasari, dan dr Karina Paramitha Dewi yang saat ini menempuh PPDS Sp1 Ilmu Kesehatan Anak, FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya. dr. Birgitta, dr Perez, dan dr Karina berhasil membawa pulang juara 3 E-poster Presentation dengan membawakan case report berjudul “Neonatal alloimmune thrombocytopenia postnatally acquired dengue infection: treatment approach, an unusual report”.

Trombositopenia alloimun neonatal adalah suatu kondisi yang kompleks, yang berasal dari alloantibodi transplasental dari ibu hamil yang ditujukan terhadap antigen trombosit janin. Demam berdarah adalah salah satu infeksi virus yang masih sering terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Demam berdarah jarang dilaporkan pada neonatus karena secara luas diyakini bahwa bayi terlindungi dari infeksi virus serius pada enam bulan pertama kehidupan dengan adanya antibodi ibu. Namun demikian, case report ini menggambarkan sebuah kasus unik yang jarang dari bayi baru lahir dengan demam berdarah.

“Jika didapatkan trombosit menurun pada neonatus, demam berdarah dapat menjadi kemungkinan penyebab selain infeksi berat atau sepsis dan kelainan trombosit lainnya, dan perlu dipikirkan terutama di daerah endemis. Kesadaran tentang deteksi dini dan intervensi secara tepat pada ibu hamil yang terkena demam berdarah sangat penting untuk mencegah terjadinya komplikasi pada ibu dan bayi yang dilahirkan”, pungkas dr. Birgitta.

Pada kegiatan ilmiah ANU 2024 kali ini, dr Raissa Virgy Rianda membawakan case report berjudul “Newborn with Multiple Fractures in Osteogenesis Imperfecta: Report of Two Cases”. Osteogenesis imperfecta adalah kelainan heterozigot yang jarang terjadi pada produksi kolagen dengan gejala osteopenia, sklera biru, kelainan bentuk tulang, dan gangguan pendengaran yang progresif. Beberapa bayi didiagnosis sebelum lahir, sedangkan yang lainnya didiagnosis di kemudian hari. Deteksi dini dan intervensi yang tepat diperlukan untuk memperbaiki luaran bayi dengan osteogenesis imperfecta.