Juni 10, 2024

Menuju Pulau Bawean Bebas Atresia Bilier!

Pada Sabtu, 08 Juni 2024, Tim Hepatologi Anak, FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya yang terdiri dari Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K), dr. Arini Haq (PPDS-1 Ilmu Kesehatan Anak), dkk melakukan sosialisasi deteksi dini atresia bilier di Puskesmas Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur. Kegiatan ini dihadiri oleh para tenaga kesehatan di Puskesmas Sangkapura. Pada sosialisasi kali ini, tim hepatologi anak berbagi informasi tentang deteksi dini atresia bilier dan kartu warna tinja “lokal” yang merupakan inovasi dari FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo untuk membantu skrining atresia bilier pada bayi kuning.

“Atresia bilier merupakan penyakit dengan gangguan aliran empedu yang dapat merusak hati. Pada awalnya, bayi tampak kuning saja tanpa diikuti keluhan lainnya, sehingga tidak disadari oleh orang tua, bahkan tenaga kesehatan sendiri. Seringkali bayi kuning dianggap hal yang normal, cukup diberi minum yang banyak dan dijemur saja padahal bayi sudah mencapai usia diatas 2 minggu tapi tetap tampak kuning. Hal ini lah yang seringkali terjadi di masyarakat sehingga pada bayi kuning tersebut tidak dilakukan evaluasi lebih lanjut. Bahkan, pada saat bayi sudah berusia 1 bulan masih kuning, masih saja dianggap tidak masalah, usia 2 bulan masih kuning barulah dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun demikian, setelah sampai di rumah sakit rujukan ternyata sudah didapatkan tanda dan gejala kerusakan hati, sehingga pengobatan tidak memberikan hasil yang baik karena sudah terlambat. Pada umumnya gejala perut yang membuncit, pembesaran hati dan limpa mulai tampak pada usia 3 bulan keatas. Oleh karena itu, seringkali misdiagnosis, bahkan oleh tenaga kesehatan”, ujar Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K) selaku konsultan gastrohepatologi anak yang telah lama menangani pasien atresia bilier.

Bersama para peserta yang merupakan tenaga kesehatan di Puskesmas Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik

Deteksi dini atresia bilier adalah tugas kita bersama, baik para tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat. Jika didapatkan bayi masih kuning pada usia > 2 minggu atau diikuti perubahan warna tinja yang semakin memudar, maka disarankan dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total pada darah. Jika didapatkan kadar bilirubin direk > 1 mg/dl maka direkomendasikan untuk pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang bisa menangani atresia bilier. Jika bayi tidak kuning, maka usia 1 bulan disarankan melakukan pemeriksaan rutin ke fasilitas kesehatan untuk check-up kesehatan. Jika bayi masih kuning namun hasil kadar bilirubin direk masih normal (< 1 mg/dl), maka evaluasi berkala kadar bilirubin direk masih perlu dilakukan sampai dipastikan bayi bebas kuning. “Tidak jarang kami menemukan kasus, saat usia 2 minggu sudah diperiksa kadar bilirubin direk dan hasilnya normal, namun bayi tetap kuning, pada saat dievaluasi usia 1 bulan ternyata kadar bilirubin direk naik sekali”, ungkap Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K).

Pada kegiatan ini, dr. Arini Haq, yang merupakan PPDS Sp1 Ilmu Kesehatan Anak yang berasal dari Pulau Bawean memperkenalkan Kartu Warna Tinja “lokal”. “Jika didapatkan bayi kuning dengan perubahan warna tinja menjadi kategori “Waspada” dan “Tidak Normal”, maka segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat, dan jangan ragu melakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total dalam darah. Pemantauan warna tinja harus dilalukan oleh semua orang tua yang memiliki bayi kuning. Jika didapatkan perubahan warna tinja semakin memudar pada bayi kuning atau bayi tetap kuning pada usia diatas 2 minggu maka segera lakukan pemeriksaan kadar bilirubin. Jangan menunggu warna tinja pada bayi kuning menjadi pucat seperti dempul baru dibawa periksa. Semakin dini penanganan atresia bilier dilakukan, maka hasilnya akan semakin baik”, penjelasan dr. Arini Haq kepada peserta.