Juli 3, 2022

Meningioma Foramen Magnum pada Ibu Hamil yang Terinfeksi Covid-19

sumber foto : Black Hair

sumber : https://www.unair.ac.id/2022/07/01/meningioma-foramen-magnum-pada-ibu-hamil-yang-terinfeksi-covid-19/

Meningioma adalah tumor otak yang terbentuk dari selaput pelindung otak dan tulang belakang. Tumor ini merupakan tumor otak kedua tersering. Meningioma merupakan tumor jinak namun bila menekan bagian-bagian otak yang penting, akan menyebabkan gejala. Gejala meningioma tergantung pada lokasi otak yang mengalami penekanan oleh tumor.  Foramen magnum adalah lubang terbuka di tengkorak yang dilalui oleh batang otak.  Ada sekitar 5,6 kasus meningioma per 100.000 wanita hamil. Diagnosis, pengobatan, dan prognosis meningioma pada batang otak kompleks pada wanita hamil. Diagnosis klinisnya kompleks karena lokasi anatomis dan karena gejala awalnya tidak spesifik. Prognosis meningioma biasanya baik dengan angka kematian berkisar antara 0% hingga 16,6%.

Di masa pandemi Covid-19, pasien dengan meningioma juga dapat terinfeksi Covid-19 sehingga dapat memperburuk keluaran. Diagnosis yang cepat sangat penting bila tumor ini terletak dekat dengan area yang mengontrol fungsi vital. Namun, meningioma pada batang otak sering sulit didiagnosis. Bahrami dkk. melaporkan 2 kasus meningioma yang menekan batang otak dengan gejala klinis menyerupai sindroma terowongan karpal. Beberapa kasus yang dilaporkan dari meningioma foramen magnum bergejala seperti nyeri kepala, pingsan, penekanan batang otak, dan cedera saraf tulang belakang. Diagnosis yang tertunda dapat menghambat pengobatan dan meningkatkan angka kematian dan kesakitan.

Penatalaksanaan meningioma selama kehamilan memerlukan pendekatan multidisiplin. Belum ada pedoman terpadu untuk intervensi bedah, waktu terminasi kehamilan, atau cara persalinan untuk pasien meningioma yang hamil. Idealnya, kehamilan harus diperpanjang selama mungkin. Beberapa komplikasi dan efek samping dari persalinan sesar meliputi gejala neurologis. Namun, persalinan sesar lebih disukai untuk menghindari peningkatan tekanan intrakranial. Manajemen operatif meningioma dianjurkan jika tumor tumbuh atau bergejala. Jika tidak, dianjurkan untuk menindaklanjuti dengan pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) rutin. Eksisi tumor setelah terminasi kehamilan dapat dipertimbangkan jika nyawa pasien terancam atau terdapat defisit neurologis yang serius, seperti penurunan kesadaran, penekanan otak, kehilangan penglihatan akut, atau hidrosefalus.

COVID-19 menyebabkan keadaan peradangan berlebih yang dapat menyebabkan perkembangan tumor. Investigasi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan hubungan molekuler antara COVID-19 dan perjalanan penyakit meningioma. Biasanya, prognosis meningioma baik, tetapi dapat mengalami komplikasi tambahan dari infeksi COVID-19 dan penekanan struktur di sekitarnya. Anamnesis lengkap dan pemeriksaan fisik menyeluruh, diikuti dengan pencitraan, sangat penting untuk diagnosis meningioma yang terletak di batang otak. Karena lokasinya yang dapat menekan batang otak, diagnosis yang cepat dan penentuan modalitas pengobatan sangat penting. Status kesehatan ibu dan janin harus dievaluasi untuk memutuskan apakah eksisi bedah dan terminasi kehamilan diperlukan.

Penulis: Djohan Ardiansyah

Link:

https://doi.org/10.1016/j.amsu.2022.103647

Judul artikel:

Foramen magnum meningioma presented as cervical myelopathy in a pregnant COVID-19 patient: A case report. Olivia Josephine WijayaDjohan Ardiansyah. Annals of Medicine and Surgery, Volume 77, 2022, 103647, ISSN 2049-0801, https://doi.org/10.1016/j.amsu.2022.103647

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *