Januari 18, 2024

Mengenal Penyakit Limfoma pada Adneksa Mata yang Perlu Diwaspadai

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) bersama dengan RSUD Dr.  Soetomo bekerjasama membuat suatu inovasi untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait kesehatan. Inovasi ini menyediakan informasi terkait beragam penyakit yang mungkin dialami oleh manusia, beberapa tips untuk mencegahnya, juga tips-tips kesehatan lainnya. 

Dokter Unair TV, suatu inovasi karya para dokter untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait kesehatan. Dokter Unair TV menyajikan informasi kesehatan yang dikemas dalam bentuk video talkshow bersama dokter spesialis yang tentunya sesuai dengan topik bahasan. Dokter Unair TV mengunggah satu episode setiap pekan. Diharapkan dengan adanya video edukatif yang terbit setiap pekannya, banyak dari masyarakat digital dapat menyaksikan dan mengaplikasikan apa yang disampaikan didalam video. 

Pada episode tanggal 22 September 2023, Dokter Unair TV menyajikan informasi mengenai limfoma adneksa mata. Dokter Delfitri Lutfi, dr, Sp.M (K), dan Dokter Putu Niken Ayu, dr, Sp.PD-KHOM, FINASIM. diundang sebagai narasumber pada episode ini. Dokter-dokter tersebut merupakan staff pengajar di Fakultas Kedokteran Unair dan RSUD Dr. Soetomo.

Limfoma adneksa mata adalah suatu kanker ganas dari jaringan limfatik mata. Pada organ penglihatan terdapat dua bagian yaitu bola mata dan adneksa (aksesori/penunjang) mata, sehingga limfoma dapat terjadi pada keduanya. Kasus ini seringkali terjadi pada manusia usia 50 hingga 70 tahun dan seringkali terjadi pada wanita. Gejala dari limfoma adneksa mata dapat berupa pembesaran kelenjar getah bening. 

Gejala yang timbul dapat mengganggu penglihatan serta menjadi suatu tanda kemungkinan adanya kanker di bagian tubuh lain mengingat jaringan limfatik berada di seluruh bagian tubuh sehingga apabila ada kelainan di satu bagian, memungkinkan untuk kelainan tersebut menyebar. Salah satu tanda atau gejala dari limfoma adneksa mata yaitu memerahnya bola mata yang biasa disebut dengan salmon patch karena pembesaran pembuluh dara pada bola mata.

Beberapa faktor resiko terjadinya limfoma yaitu :

  1. Usia. Limfoma lebih sering terjadi pada lansia diatas 60 tahun.
  2. Jenis kelamin. Limfoma lebih sering terjadi pada pria dibanding wanita.
  3. Riwayat pengobatan. Seseorang yang pernah menerima pengobatan kanker akan lebih rentan mengalami limfoma.
  4. immunocompromised/autoimmune. Seseorang dengan sistem imun yang lemah akan lebih rentan mengalami penyakit dan kelainan pada tubuh.
  5. Riwayat keturunan. Seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan keganasan/kanker lebih rentan mengalaminya juga.
  6. Infeksi. Para dokter masih meneliti untuk mendapatkan bukti dan memastikan apakah infeksi virus dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami keganasan/kanker.

Beberapa cara untuk mencegah terjadinya kanker atau limfoma yaitu dengan pola hidup sehat. Tidak mengonsumsi makanan dengan pengawet, menjaga kesehatan fisik dan mental, juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kelainan di tubuh kita. Apabila menemui atau merasakan adanya gangguan fungsi anggota tubuh, maka disarankan untuk segera memeriksakan kepada dokter atau ahli. Hindari intervensi atau tindakan seperti mengucek mata, atau sering menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan fungsi. Deteksi dini sangat membantu dan meningkatkan keberhasilan pengobatan/terapi. Jaga kesehatan mata dan waspada terhadap gangguan fungsinya.