Juni 14, 2024

Mahasiswa PPDS Sp1 Ilmu Kesehatan Anak FK UNIAR – RSUD Dr. Soetomo Bawakan Kolestasis dan Abses Hati

Rangkaian kegiatan internasional, berupa workshop dan simposium 1st Pediatric Gastrohepatology Update Symposium (PEGASUS) yang bertema “Updates on Pediatric Gastrohepatology Management in Daily Practice” telah digelar pada 31 Mei-2 Juni 2024 di Hotel Westin, Surabaya. PEGASUS 2024 diikuti lebih dari 500 peserta yang sebagian besar adalah dokter anak. Pada kegiatan ini, dr. Perez Wahyu dan dr. Anindya Kusuma Winahyu yang merupakan PPDS Sp1 Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya yang ikut berpartisipasi dalam e-poster presentation.

dr. Anindya Kusuma Winahyu memaparkan penelitiannya yang berjudul “RCT Study in Cholestasis: Effect of Methy|prednisolone on Liver Function Tests”. “Kolestasis adalah gangguan aliran empedu yang dapat menyebabkan kerusakan hati. Sebagian besar kolestasis pada bayi disebabkan oleh atresia bilier dan saat ini masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Angka kegagalan hati akibat atresia bilier di Indonesia masih tinggi dan berujung pada kebutuhan transplantasi hati. Secara klinis sulit membedakan bayi kuning akibat kuning fisiologis yang normal dengan kuning akibat kolestasis yang tentunya patologis atau tidak normal. Pada kolestasis, didapatkan kadar bilirubin direk dalam darah > 1 mg/dl. Oleh karena itu, jika bayi masih tampak kuning pada usia diatas 2 minggu disarankan melakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total dalam darah. Penelitian ini merupakan salah satu upaya dalam mencari peluang terapi dalam memperbaiki luaran bayi yang menderita kolestasis,” pungkas dr. Anindya Kusuma Winahyu usai kegiatan presentasinya.

Sementara itu, dr. Perez Wahyu Purnasari membawakan laporan kasus berjudul “Amoebic Liver Abscess and Chronic Pancreatitis in Children: Rare Entity in Recent Time”. “Abses hati merupakan masalah kesehatan yang masih terjadi pada anak. Manajemen untuk amoebic liver abses pada pasien ini membutuhkan penanganan dari berbagai disiplin ilmu, sehingga perlu perhatian tak hanya oleh dokter anak sendiri. Walaupun abses hati relatif jarang terjadi pada anak, namun tetap menjadi masalah infeksi yang signifikan terutama di negara berkembang. Gejala demam dan sakit perut seringkali didapatkan pada abses hati. Beberapa faktor resiko abses hati, antara lain sistem kekebalan tubuh yang terganggu (keganasan, malnutrisi, dan pengguna kemoterapi atau imunosupresan), diabetes mellitus, kelainan saluran empedu, trauma abdomen, infeksi parasit tertentu, usus buntu, infeksi umbilikalis, namun demikian sebagian besar abses hati disebabkan oleh multifaktorial. Pencegahan dini dan deteksi dini, adalah hal terbaik yang bisa dilakukan”, ujar dr. Perez Wahyu Purnasari.