Februari 20, 2024

Mahasiswa PPDS Ilmu Kesehatan Anak Melakukan Sosialisasi Deteksi Dini Atresia Bilier

Atresia bilier adalah penyakit gangguan aliran empedu yang melibatkan saluran empedu di dalam dan diluar hati. Angka kejadian bervariasi dan cukup tinggi di Asia (100-500 per 100,000 kelahiran hidup). Kondisi tersebut muncul pada periode bayi dengan kuning yang berkepanjangan (lebih dari usia 2 minggu) dan tinja berwarna pucat, diikuti dengan pembesaran hati (hepatomegali), dll. Seringkali pada awalnya, bayi tampak sehat, hanya kuning saja, dan seringkali dianggap kuning yang normal, cukup dijemur atau diberi minum saja tanpa penanganan lanjutan.Kuning yang normal pada bayi pada umumnya membaik pada usia 14 hari. Oleh karena itu, jika didapatkan bayi masih tampak kuning pada usia diatas 14 hari disarankan dilakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dan total pada darah untuk memastikan ada tidaknya kolestasis.Kolestasis menandakan adanya gangguan aliran empedu, dan didukung dengan peningkatan kadar bilirubin direk > 1 mg/dl pada pemeriksaan darah. Empedu yang tidak mengalir dengan baik dapat menyebabkan kerusakan hati.

Namun demikian, keterlambatan rujukan atresia bilier masih cukup tinggi. Atresia bilier berakibat fatal jika tidak diobati dengan tingkat kelangsungan hidup kurang dari 10% pada usia 3 tahun.Pada usia yang lebih lanjut, seiring kerusakan hati yang terjadi, perut semakin membesar, bisa didapatkan asites (cairan di dalam perut), pembesaran limpa, perdarahan, hingga komplikasi lain akibat kerusakan hati.Tingkat keberhasilan operasi Kasai untuk memperbaiki aliran empedu bervariasi hingga kebutuhan untuk transplantasi hati. Oleh karena itu, deteksi dini adalah kunci!

Diagnosis dini akan meningkatkan peluang kesembuhan. “Namun kenyataan di lapangan, masih banyak pasien atresia bilier yang berobat pada usia > 3 bulan ke poli hepatologi anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya dari berbagai daerah di Jawa Timur. Mereka sudah pernah berobat sebelumnya dan dikatakan kuningnya tidak apa-apa, kurang minum, dijemur saja nanti hilang sendiri. Ditunggu sampai usia 2-3 bulan, kuning tidak kunjung hilang akhirnya baru dirujuk ke Surabaya. Hal inilah yang mendorong kami tim hepatologi anak, RSUD Dr. Soetomo- FK UNAIR, Surabaya untuk gencar mensosialisasikan pentingnya deteksi dini atresia bilier”, ucap Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K).

“Setiap bayi dengan kuning yang berkepanjangan (masih kuning pada usia diatas 2 minggu), apalagi diikuti tinja berwarna pucat, atau urin berwarna gelap harus diperiksa lebih lanjut kadar bilirubin direk dan total pada darah untuk memastikan ada tidaknya kolestasis yang bisa terjadi pada atresia bilier, dan harus dirujuk ke pusat rujukan yang bisa menangani atresia bilier,. lanjutnya.

Pada acara sosialisasi yang diikuti oleh hampir 100 peserta di MI Al Hidayah, Kebraon, Karang Pilang, Surabaya tanggal 17 Februari 2024 tersebut, dilakukan pembagian Buku “Ayo Deteksi Dini Atresia Bilier” dan pengenalan Kartu Warna Tinja “lokal” yang diciptakan oleh tim hepatologi anak, RSUD Dr. Soetomo- FK UNAIR, Surabaya berdasarkan pengalaman merawat pasien dengan kolestasis dan atresia bilier selama ini. “Kartu warna tinja adalah salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran untuk menemukan dan melakukan rujukan dini pada bayi yang dicurigai menderita atresia bilier” ujar dr. Amrina Rosyada selaku narasumber pada acara tersebut,dan saat ini sedang menempuh PPDS-1 Ilmu Kesehatan Anak bersama dengan dr. Ayu Pisita Wulandari dan dr. Katherine Fedora.

“Jangan anggap remeh bayi kuning! Jangan ragu mengecek kadar bilirubin direk dan total pada darah jika bayi masih kuning pada usia lebih dari 14 hari atau jika didapatkan perubahan warna tinja yang semakin memudar dibandingkan sebelumnya. Jika normal, jangan lupa kontrol ulang ke fasilitas kesehatan terdekat pada usia 1 bulan untuk memastikan kondisi bayi”, berikut pesan yang selalu dibawakan oleh tim hepatologi anak, RSUD Dr. Soetomo- FK UNAIR, Surabaya kepada Masyarakat sekitar.

Menuju Indonesia bebas atresia bilier!

Penulis: Rendi Aji Prihaningtyas