Maret 3, 2023

Indonesia Belum Juga Bebas Kusta, Mahasiswa Kedokteran Harus Ikut Andil

Indonesia masih belum terbebas dari kusta. Meski Surabaya dan beberapa daerah menyatakan nol kasus. Nyatanya di daerah lain masih ada bahkan jadi endemi.

Dari data yang dimiliki Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), penderita kusta di Indonesia masih tertinggi ketiga di dunia. Di Jawa Timur sendiri, endemi kusta masih terjadi di kawasan Madura dan Pantura.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit Indonesia (Perdoski) Cabang Surabaya, Dr. Yulianto Listiawan, dr., SpKK mengatakan kusta adalah penyakit kuno. Penyakit ini tidak diketahui penyebabnya. “Yang pasti itu bukan kutukan, bukan keturunan, bisa diobati dan sembuh,” ujarnya ditemui seusai Roadshow KSMHI-Perdoski memperingati hari kusta, di Ruang Sidang Gramik FK UNAIR, 28 Februari 2023.

Memang stigma di masyarakat masih menganggap kusta ini penyakit keturunan dan kutukan. Karena cacat yang harus ditanggung penderita bisa seumur hidup jika tidak diobati.

“Karena stigma kutukan itu maka penderita tidak mau berobat. Mereka biarkan dan akhirnya menimbulkan kecacatan. Karena kecacatan itu akhirnya menurunkan produktivitas seseorang,” tukas Ketua Departemen Penyakit Kulit Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga itu.

Yang pasti kata dr Yulianto, kusta ini penyakit menular. Penularan dari doplet dari penderita. “Karenanya yang tertular itu orang-orang di sekitarnya. Penderita berinteraksi dengan orang di sekitarnya. Sehingga seringkali dianggap penyakit keturunan,” jelasnya.

Dari tertular, kata dr Yulianto, masa inkubasi penyskit ini bisa 10 hingga 20 tahun. Sehingga tidak disadari jika sudah tertular.

Padahal penyakit ini tanda-tandanya sudah bisa dideteksi. Misalnya kulit merah-merah namun tidak gatal. “Merah tapi tidak gatal itu karena jaringan syaraf di kulit sudah mati, mati rasa,” ungkapnya.

Karena itu, jika ada orang di sekitar sudah dideteksi menderita kusta, maka sesegera mungkin memeriksakan diri. Karena jika dideteksi, maka bisa diobati dan bisa sembuh.

“Diobati sekali saja itu sudah bisa sembuh. Karenanya jangan takut distigma macam-macam,” tuturnya.

Karena itu, Perdoski merasa perlu adanya edukasi pada masyarakat sehingga penyakit ini bisa diberantas agar kualitas sumber daya manusia Indonesia bisa meningkat.

Salah satu yang dilakukan Perdoski adalah mendatangi kampus-kampus kedokteran, agar pada calon dokter mulai peduli pada kasus kusta ini. Harapannya mereka bisa lebih massif mengedukasi masyarakat terkait kusta ini.

“Kepedulian harus dipupuk sejak dini. Sebelum adik-adik ini mengabdi jadi dokter mereka harus diedukasi agar peduli terhadap penyakit ini,” tandasnya. (ISM)