Juli 1, 2022

FK UNAIR Kirim 70 Mahasiswa ke Luar Negeri

Pelepasan Student Outbound FK Unair

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) memberangkatkan 70 mahasiswanya untuk kuliah ke luar negeri (student outbound).

Program ini telah berjalan sejak tahun 2017, dan FK UNAIR telah mengirim 140 mahasiswa setiap tahunnya ke berbagai universitas di luar negeri.

Meskipun sempat terhenti selama pandemi dan aturan di berbagai negara, mulai bulan Juli 2022 akan ada 70 mahasiswa FK Unair yang kembali mengikuti program ini.

Wakil Dekan FK Unair, Dr dr Achmad Chusnu Romdhoni SpTHT-KL(K) FICS mengungkapkan program ini merupakan program kedua dalam pengiriman mahasiswa untuk menempuh studi di luar negeri selama pandemi.

Sebelumnya beberapa mahasiswa mengikuti Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) ke Eropa, Rumania dan Inggris tahun lalu.

“Tahun ini jumlahnya lebih besar, ada 70 mahasiswa yang akan menempuh studi di Thailand, Jepang dan Malaysia. Mereka akan mengikuti studi full time selama tiga bulan atau part time kurang dari tiga bulan,” ujarnya.

Dengan kegiatan ini harapannya mahasiswa akan belajar hal baru serta berkolaborasi dengan teman dan guru dari luar negeri.

Selain itu FK UNAIR juga akan mendapat nilai positif karena adanya kolaborasi.

“Karena mereka mahasiswa aktif, jika ada yang kurikulumnya matching bisa di ikutkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka,” pungkasnya.

Empat mahasiswa yang akan berangkat ke Osaka University

Hanif Ardiyansyah Sulistya, mahasiswa semester 6 yang akan outbond ke Osaka University mengungkapkan dirinya mengajukan diri untuk program ini karena tertarik dengan tempat tujuan belajarnya yang mendapat predikat baik di dunia.

Sehingga dirinya dan tiga temannya akan diterima untuk menempuh studi selama 26 hari di kampus ternama di Jepang tersebut.

“Saya dan teman-teman akan belajar dua subject yang berbeda. Ada riset mikrobiologi selama 26 hari. Nantinya kami akan melaporkan riset kegiatan di sana. Kami ada dua fokus utama, Vaskuler lebih pada steam cell untuk terapi serta Emerging Viral Diseases pada mamalia,” ungkapnya.

Hanif mengaku tidak mengeluarkan biaya akomodasi karena ditanggung Osaka University, bahkan mereka mendapat uang saku sebesar 80 ribu yen. Sementara dari UNAIR ia juga mendapat uang pembinaan sebesar Rp 5,5 juta. (ISM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *