June 23, 2022

FK UNAIR Gandeng Ahli Gagal Jantung dari AS Menjadi Adjunct Professor

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) kembali menggandeng adjunct professor. Kali ini adalah ahli gagal jantung. Yakni Prof. Stavros George Drakos, MD, PhD, FACC dari University of Utah School of Medicine & Salt Lake VA Medical Center, Amerika Serikat.

Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG(K) berharap, adjunct professor ini bisa mengembangkan pendididikan dan penelitian di FK UNAIR. Yang harapannya bisa memperlus kesempatan FK UNAIR berkiprah di forum Internasional dan menaikkan ranking FK UNAIR.

“Mereka (para adjunct professor) akan datang satu tahun sekali hingga dua kali untuk melakukan penelitian dan publikasi bersama,” terang Dekan.

Prof Stavros merupakan adjunct professor FK UNAIR ke 22 di tahun 2022. Angka ini sesuai yang ditargetkan oleh fakultas di tahun 2022.

“Namun meskipun target kita sudah tercapai, kita akan terus memperluas kolaborasi dengan mitra luar negeri sehingga adjunct professor kita berjumlah 29 orang,” tambah Dekan.

Bidik Riset Bersama Tentang Gagal Jantung

Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FK UNAIR-RSUD Dr. Soetomo Prof. Dr. Yudi Her Oktaviono, dr., Sp.JP(K), FIHA menambahkan, gagal jantung beresiko tinggi menyebabkan kematian pada pasien jantung. Dengan menggandeng ahlinya, diharapkan memperbarui pelayanan di RSUD Dr. Soetomo.

“Kami akan mengirim staf-staf muda kami untuk belajar ke center mereka. Tim dari Utah University juga akan datang mengevaluasi appakah yang kami kerjakan sudah benar,” tambahnya.

Kolaborasi riset mengenai gagal jantung menjadi hal yang paling dinantikan departemen dengan pengangkatan Prof Stavros menjadi adjunct professor ini. Di mana kondisi ini masih menjadi masalah utama yang belum bisa ditangani dengan tuntas.

“Selama ini kalau sudah gagal jantung dinilai akhir dari segalanya. Kita ingin meneliti apakah kalau sudah sampai ke tahap ini, fungsi jantung bisa dikembalikan menjadi lebih baik,” tambahnya.

Sebenarnya, sudah ada beberapa cara yang dilakukan. Seperti pemberian obat-obatan. Juga intervensi dengan memasang alat di jantung, hingga stemcell. Namun hal di atas masih perlu banyak penelitian lanjutan.

“Mereka dengan fasilitas yang jauh lebih lengkap. Harapannya bisa membantu memberikan jawaban atas permasalahan yang kita cari,” tukasnya. (ISM)

Leave a Reply

Your email address will not be published.