Agustus 11, 2022

Dosen Mikrobiologi Klinis FK Unair Ingatkan Penyakit Cacar Monyet di Dokter Unair TV

SURABAYA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah cacar monyet sebagai darurat kesehatan global, Sabtu 23 Juli 2022 lalu menyusul ditemukan 16 ribu kasus dari 75 negara.

Menanggapi kejadian ini, IDI juga mengimbau pemerintah untuk memitigasi wabah ini dan meminta masyarakat untuk waspada.

Lalu apa sebenarnya cacar monyet atau yang biasa disebut monkeypox ini. Dosen Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga , Dr dr Agung Dwi Wahyu Widodo, Msi, MKedKlin, SpMK menjelaskan Cacar Monyet (Monkey Pox) merupakan penyakit menular yg disebabkan oleh Virus Monkey Pox.

Penyakit ini awalnya ditularkan oleh hewan primata seperti monyet ke manusia.  Namun pada perkembangannya juga menular lewat manusia.

“Sebenarnya Monkey Pox ini penyakit yang ada sejak lama. Muncul pertama kali di Afrika pada tahun 1970an,” paparnya di tayangan DokterUnairTV edisi 21 Juni 2022.

Penyakit ini bisa ditemukan di Eropa hingga Amerika tak lepas dari faktor perpindahan penduduk (migrasi) dari Afrika ke negara-negara di tersebut sehingga menyebarkan penyakit ke daerah tujuan.

Dokter Agung menyebutkan, Monkey Pox bisa menular melalui beberapa cara. Pertama kontak dengan cairan tubuh, lesi (luka atau jaringan rusak). Kedua, penularan melalui droplet atay tetesan ludah dan kemudian kontak dengan barang yang telah terkontaminasi virus.

Masa inkubasi virus ini cukup lama. Antara 5 hingga 20 hari sampai menunjukkan gejala.

Adapun gejala Cacar Monyet diantaranya demam, “Demam biasanya baru muncul tiga minggu setelah terinfeksi,” terangnya.

Demam ini kemudian diikuti ada ruam disertai lenting (titik-titik air) di dalam kulit mulai dari kepala menyrbar ke badan dan kaki. Ini bisa bertahan sampai satu bulan untuk bisa hilang.

Gejala lain yang membedakan infeksi Virus Cacar Monyet dan Cacar Air adalah dalam Cacar Monyet orang yang terinveksi akan mengalami benjolan di daerah kepala belakang (atau di daerah kelenjar getah bening).

“Ini yang membedakan dengan cacar dan campak,” tambahnya.

Pembeda lain adalah, pada penderita cacar monyet, lenting juga muncul di telapak tangan dan kaki. Sementara ini tidak terjadi pada penyakit cacar air maupun campak.

Dokter Agung menambahkan, penyakit ini sangat mungkin bisa sampai ke Indonesia jika tidak diantisipasi dengan serius.

“Belajar dari kasus penyakit sebelumnya, ini merupakan kasus impor yang tidak menutup kemungkinan kita juga mendapatkannya,” terangnya.

Apalagi Indonesia termasuk negara tropis di mana hewan-hewan pembawanya juga ada di sini. Ditambah iklim yang mendukung.

Pemberian vaksin menjadi salah satu upaya untuk menekan penyebaran penyakit ini. Saat ini pun WHO tengah melakukan uji coba obat untuk terapi cacar monyet.

Kabar baiknya, orang yang sudah pernah terkena cacar air terbukti lebih kebal dari cacar monyet ini.

Untuk pencegahan, pertama hindari kontak. Upayakan untuk mengisolasi pasien dengan cacar monyet. Tujuannya agar mencegah penularan penyakit serta mencegah pasien terinfeksi penyakit lain.

Selanjutnya hindari penggunaan alat makan bersama karena berpotensi menularka  dari droplet.

Kemudian usahakan memisahkan makanan dari makanan orang lain dan terakhir antisipasi hewan di rumah yg berpotensi menularkan penyakit ini . Misalnya pengerat, primata, monyet dan lain sebagainya.

Keseimbangan makanan seperti komposisi juga sangat penting diperhatikan untuk kesembuhan pasien, ” Perbanyak  makanan yang mengandung air. Seperti buah-buahan. Tujuannya untuk mengganti air yang keluar dari tubuh melalui lenting ini,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *