Juni 28, 2024

Dosen FK UNAIR Ajak Siswa SDN Ketabang Stop Bullying

Bullying atau perundungan adalah masalah serius yang dihadapi anak-anak di seluruh dunia. Laporan UNESCO 2018 berdasarkan Global School Student Health Survey (GSHS) yang melibatkan 144 negara di seluruh dunia, 16,1% anak-anak menjadi korban bullying. Jayani pada penelitiannya di tahun 2019 menuliskan, Indonesia menduduki peringkat ke lima di dunia negara dengan kejadian bullying.

Bullying perlu ditangani serius karena memiliki dampak pada perkembangan anak. Dampak psikologis dari bullying yang terjadi di sekolah dasar sebesar 42% dimana anak mengalami gangguan mental seperti sensitivitas tinggi, rasa marah dan meluap-luap. Selain itu bullying juga bisa menyebabkan perasaan rendah diri, cemas, kualitas tidur menurun, depresi keinginan menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri.

Narasumber dr. Izzatul Fithriyah,Sp.KJ(K). mengajak siswa diskusi interaktif

Untuk meningkatkan kesadaran akan dampak bullying, dosen dari Departemen Anatomi, Histologi dan Farmakologi bersama dengan Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) memberikan edukasi kepada siswa, guru dan masyarakat di lingkup SDN Ketabang Surabaya pada 16 Mei 2024. Kegiatan ini merupakan program pengabdian masyarakat (pengmas) kolaboratif dua departemen.

Kasus bullying di SDN Ketabang Seruni Surabaya menjadi perhatian khusus oleh kepala sekolah. Misalnya saat istirahat sering terdengar siswa siswi saling mengejek. Ada siswa yang menyendiri karena dikucilkan. “Karenanya kami berharap melalui edukasi yang dilakukan oleh dosen FK UNAIR, siswa SDN Ketabang Seruni Surabaya dapat menjadi contoh baik untuk sekolah lain dengan menerapkan bebas bullying di sekolah,” ujar kepala sekolah, Suparni, S.Pd.

Ketua Pengmas, Nurmawati Fatimah,dr.,M.Si menyebut, edukasi diberikan dengan cara memberikan materi dengan media powerpoint yang menarik. Didukung dengan bahasa yang mudah dipahami siswa sekolah dasar. Edukasi ini diikuti oleh 30 siswa perwakilan dari kelas 3-6 dan 7 guru.

“ Beberapa hal yang kami sampaikan diantaranya sikap dan perilaku apa saja yang tergolong bullying dan bagaimana anak harus bersikap jika mendapatkan bullying dari teman,” paparnya.

Narasumber dan peserta pengmas

Selain itu, tim pengmas juga menempelkan leaflet dan poster ke dinding sekolah. Ini sebagai salah satu sarana pengingat bagi seluruh masyarakat di sekolah, baik siswa guru, karyawan dan orang tua siswa.

Untuk menilai sejauh mana pemahaman siswa siswi mengenai pencegahan bullying, kegiatan diakhiri dengan pengisian kuesioner.

“Kami juga akan melakukan untuk evaluasi kegiatan pengmas dengan melakukan kunjungan ke sekolah dan akan dilakukan wawancara kepada guru sekolah tentang perkembangan tingkah laku siswa siswi setelah mendapatkan edukasi tentang pencegahan bullying,” tukasnya.