Agustus 11, 2022

Dokter FK Unair Berbagi Pengetahuan tentang Brain Friendly Learning di Dokter Unair TV

SURABAYA – Materi mengenai otak memang selalu memancing keingintahuan karena selalu ada teori-teori yang baru. Materi seputar ‘brain’ inilah yang diangkat dalam webinar Tanya Apa Saja Tentang Ilmu Pendidikan Kedokteran (TASTIDIKDOK) ke-15,  bersama Dr dr Hermanto Tri Joewono, SpOG(K).

Brain Friendly Learning adalah kerja otak dalam hal pembelajaran dan pendidikan. Dulu brain based learning, orang menganggap jauh antara yang terjadi dengan praktek pembelajaran, jadi mungkin lebih tepat brain friendly learning,” jelasnya dalam program Dokter Edukasi yang ditayangkan di Dokter Unair TV, 19 Juli 2022.

Brain friendly learning juga kurang dibahas di buku-buku pendidikan kedokteran. “Hubungan otak dan pendidikan kurang dibahas di medical education,” ungkapnya.

Inilah yang membuatnya ingin mengungkap brain friendly learning lebih dalam. Selain itu ada tujuh hal yang mempengaruhi otak.

Pertama, kapasitas otak manusia tidak terbatas. Selama individu dapat memanfaatkannya dengan baik.

Kedua, setiap otak adalah unik. Hal ini lantaran setiap individu memiliki genetik dan pengalaman yang variatif sehingga setiap otak memiliki karakteristik yang tidak sama.

Ketiga, visualisasi.  Ada korelasi antara sensori dan motorik dalam tubuh yang saling berkaitan.

Keempat, burn out atau kondisi stress dan kelelahan, baik secara fisik maupun mental, salah satunya dalam hal pekerjaan.

Kelima, menjadi momok. Emosi sangat penting dalam pendidikan karena mengarahkan perhatian yang berpengaruh pada pembelajaran.

“Otak juga dapat mereproduksi emosi yang penting dalam hal pembelajaran.

Adanya bagian otak yang disebut amigdala akan bekerja atau bertindak reflek ketika diri dalam keadaan terancam. Amigdala adalah 911-nya tubuh,” terangnya.

Keenam, pengaruh negatif feedback.  “Tidak ada kritik yang membangun semua selalu memancing feedback negatif,” katanya menyitir ungkapan dari Richard Boyatzis.

Ketujuh, active participation, yakni digambarkan dalam hal belajar mengajar di kelas yang mana peserta harus lebih aktif daripada dosen. Peserta yang harus lebih aktif menggali materi dan menginstruksikannya sendiri agar semakin paham. “Lebih mengaktifkan kegiatan prasinaptik,” sarannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *