Januari 18, 2024

Dokter Edukasi: Tips Melatih Anak Berpuasa Sejak Dini

Pada bulan suci Ramadhan, setiap muslim diwajibkan untuk berpuasa. Disaat yang sama, ada beberapa golongan yang tidak diwajibkan untuk berpuasa, salah satunya adalah anak-anak. Oleh karena itu, dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1444H, melalui program Dokter Edukasi di channel youtube Dokter Unair TV , Dr. Mira Irmawati, dr., Sp. A(K) akan memberikan edukasi seputar tips melatih anak untuk melaksanakan puasa sejak dini. 

Dokter Mira menyampaikan bahwa sudah merupakan sebuah hal yang umum bagi anak-anak untuk berpuasa. Beliau menjelaskan bahwa tubuh seorang anak sudah didesain untuk beradaptasi setiap memasuki suasana berpuasa, dimana respon tubuh yang pertama adalah mempertahankan kadar gula dalam tubuh dengan mengambil cadangan di hati. Singkatnya, ketika tidak ada asupan dari luar tubuh, maka tubuh kita akan mengkondisikan untuk mengambil dari cadangan yang lain, seperti lemak yang dibongkar untuk mempertahankan keadaan gula darah di dalam tubuh kita. Oleh karena itu, sebenarnya tidak masalah bagi anak-anak untuk berpuasa. Dengan demikian, dapat dikatakan juga bahwa tidak ada gangguan, baik terhadap pertumbuhan maupun perkembangan anak, ketika mereka menunaikan ibadah puasa selama nutrisi yang dikonsumsi ketika sahur dan buka puasa mencukupi. 

Kemudian, Dokter Mira juga menjelaskan bahwa memang ada beberapa hal yang harus diwaspadai ketika anak-anak melaksanakan puasa, seperti dehidrasi misalnya. Salah satu tanda awal dehidrasi adalah merasakan haus. Namun, merasakan haus ketika berpuasa adalah sesuatu yang wajar karena memang dalam kondisi berpuasa kita tidak minum yang juga menyebabkan berkurangnya frekuensi buang air kecil. Contoh dari tanda yang harus diwaspadai lainnya adalah ketika anak-anak tidur kemudian marah-marah dan terlihat lemas. Sesuai anjuran dari Dokter Mira, akan lebih baik apabila dibatalkan puasanya. Selain itu, ada beberapa kondisi lain dimana anak dianjurkan untuk tidak berpuasa, seperti pada jam minum obat dan anak-anak dengan gangguan metabolisme atau pertumbuhan. Intinya. tutur Dokter Mira, yang penting adalah gizi seimbang, yang disesuaikan dengan porsi aktivitas, untuk sahur dan buka puasa. 

Ada beberapa tips dari Dokter Mira untuk membuat anak mengonsumsi makanan dan minuman dengan gizi seimbang sesuai “Isi Piringku”. Pertama, berdasarkan pengalaman Dokter Mira sebagai ibu rumah tangga, anak-anak biasanya akan suka dengan makan-makanan yang menurut mereka menyenangkan. Misalnya, tampilan dari piring dan penyajiannya dibuat menarik. Jadi, tidak hanya sekedar nasi dari centong, tetapi juga dapat dibentuk menjadi bentuk tertentu, seperti bentuk bunga atau mobil-mobilan. Kedua, menggunakan istilah yang lebih “keren” bagi anak-anak. Contohnya, istilah ayam “krispy” lebih keren bagi anak-anak dibanding ayam goreng. Ketiga, menurut Dokter Mira, orang tua bisa menawarkan beberapa menu kepada anak dan anak akan memilih salah satu dari menu tersebut. Sebagai kesepakatan dari memilih menu tersebut, sang anak harus menghabiskan makanannya. Terakhir, untuk menambah keseruan sahur atau berbuka bagi anak sebagai bentuk upaya menaikkan nafsu makan, orang tua bisa mengakalinya dengan mengundang teman-teman dari sang anak untuk sahur atau berbuka bersama. 

Mendekati penghujung talkshow, Dokter Mira menekankan bahwa sudah sebaiknya orang tua mengajarkan praktik berpuasa kepada anak sejak dini karena puasa memiliki banyak manfaat, terutama dalam kesehatan. Akhir kata, Dokter Mira berpesan kepada para orang tua untuk mengkondisikan suasana yang menyenangkan sekaligus memberikan keleluasaan pada anak untuk mulai berpuasa sejak dini sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan nutrisinya. Harapannya adalah agar anak terlatih dan siap untuk menjalankan kewajibannya sebagai muslim di kemudian hari. 

Penulis: Titania Sophia Qelmi