Januari 18, 2024

Dokter Edukasi: Amankah Berpuasa Bagi Penderita Gangguan Lambung?

Tahukah kalian bahwa gangguan pada lambung ternyata memiliki prevalensi yang tinggi. Berdasarkan data WHO tahun 2015 ada sekitar 1,8 juta sampai 2,1 juta kasus gangguan pada lambung terjadi setiap tahunnya dengan jumlah penderita di Asia Tenggara mencapai angka 580.000. Hal tersebut tersebut tentu menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat yang saat ini tengah menjalankan ibadah puasa di Bulan Ramadhan. 

Menanggapi hal tersebut, Prof. Muhammad Miftahussurur, yang merupakan dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Wakil Rektor Universitas Airlangga bidang internasionalisasi digitalisasi dan informasi dari tahun 2020 menjelaskan bahwa gangguan pada lambung itu dalam istilah medis biasanya disebut dengan gastritis, yakni suatu peradangan yang terjadi di lambung yang biasanya dikonfirmasi dengan pemeriksaan penunjang seperti USG, pemeriksaan endoskopi, ataupun patologi anatomi untuk menegakkan diagnosis. 

Kemudian Prof. Mifta juga menuturkan mengenai gejala, tatalaksana, hingga kompllikasi yang dapat timbul akibat adanya gangguan pada lambung. Gangguan lambung dalam dunia medis terbagi menjadi beberapa macam dan hal ini perlu untuk diketahui agar dapat dibedakan sejak awal karena nantinya akan menentukan bagaimana terapi yang akan dilakukan selanjutnya. Prof. Mifta melalui program edukasi Ramadhan melalui Dokter Unair TV, Jumat (21/04/2023), menjelaskan beberapa perbedaan dari masing-masing jenis gangguan lambung, “Gastritis itu keluhannya bisa seperti mual muntah perut terasa penuh atau nyeri pada daerah kiri atas atau ulu hati, lalu pada radang lambung atau gastritis itu sendiri kita harus membedakan dulu ini infeksi atau bukan dan juga pengontrolan terkait asam lambung itu sendiri, tetapi kalau tentang Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) kita mengatur tentang keasaman lambung dan pada penderitanya biasanya keluhan yang terbanyak bisa batuk lama atau batuk kronis ataupun rasa terbakar di dada”. 

Untuk tatalaksana gangguan pada lambung itu sendiri bergantung pada ada tidaknya alarm symptom lalu alarm symptom tadi mengatur tentang seberapa dini keperluan untuk melakukan endoskopi ataupun pemeriksaan biopsi patologi anatomi. Prof. Mifta juga mengimbau hendaknya masyarakat segera memeriksakan diri ke dokter jika merasakan gejala gangguan lambung karena jika dibiarkan dapat menimbulkan komplikasi, seperti keganasan pada kerongkongan atau kanker esofagus mataupun keganasan pada lambung atau kanker lambung. 

Apakah seseorang itu aman untuk melakukan puasa ketika dirinya terdiagnosis gangguan pada lambung? Menjawab pertanyaan tersebut Prof. Mifta menerangkan mengenai hasil penelitian yang menyatakan justru berpuasa bermanfaat bagi penderita gangguan lambung khususnya penderita dispepsia fungsional. Mengapa? Karena hidupnya bida jadi lebih teratur, pola makannya jadi teratur, tidurnya juga teratur, dan pada saat-saat tertentu juga pengaturan tidurnya sesuai dengan metabolisme tubuhnya.  

Pada akhir sesi, Prof. Mifta menutup diskusinya dengan membagikan tiga tips utama agar puasa aman. Pertama, pengaturan dari obat yang diminum oleh penderita. Kedua, pengaturan makanan seperti memilah mana makanan yang sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi karena justru menambah gas dan menambah perasaan sebah atau tidak nyaman di lambung. Ketiga atau terakhir,  dengan konsumsi cairan yang cukup. 

Penulis: Nabila Aristawati