Januari 17, 2024

Dokter Dominicus di Dokter UNAIR TV: Buang Popok ke Sungai Beresiko Tularkan Polio

Penyakit polio sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Kasus ini berada pada puncaknya pada 30 tahun yang lalu di mana terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai belahan dunia. Kendati kasusnya tak sebanyak dulu, polio tetap perlu diwaspadai. Nyatanya dalam beberapa hari ini, ada beberapa temuan kasus polio di Jawa Timur.

Dijelaskan oleh Dr. Dominicus Husada dr. DTM&H., MCTM(TP)., SpA.(K), penyakit polio umumya terjadi pada anak. Ditandai dengan kelumpuhan otot dan bisa terjadi di mana saja. Kasus klasik dan paling umum terjadi di kaki yang mengakibatkan kelumpuhan. Tapi bisa di otot manapun seperti pada otot pernapasan. Otot yang mati karena polio tidak bisa disembuhkan, Inilah yang menyebabkan penyakit polio berbahaya.

“Kelumpuhan pada polio tidak bisa disembuhkan seperti semula,” terangnya dalam tayangan Youtube Dokter Edukasi di Dokter Unair TV, 5 Januari 2024.

Penyakit polio disebabkan oleh virus polio. Virus ini menular dan masuk ke tubuh lewat mulut dan keluar lewat feses. Karena virus ini bisa hidup di lingkungan. Di sampah dan air. Air yang tercemar virus polio lalu dijadikan air minum juga berpotensi menularkan virus.

“Jika virus ada dalam tubuh lalu dikeluarkan melalui kotoran. Orangnya masih BAB di sungai, atau yang sering terjadi buang popok bayi di sungai, ini berpotensi menularkan virus polio,” tambahnya.

Karenanya ini menjadi salah satu alasan betapa pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Misalnya dengan membiasakan mencuci tangan dengan sabun. Membuat WC, tidak membuang sampah sembarangan, BAB sembarangan serta imunisasi.

“Mengapa imunisasi penting, karena dia tidak ada obatnya,” tambahnya.

Sama seperti DBD dan campak, hingga saat ini belum ada antivirus untuk virus polio. Yang bisa dilakukan kepada penderita adalah menjaga agar kondisinya tidak memburuk. Misalnya dengan memberikan makanan bergizi. Selain itu lalatihan fisik rehabilitasi juga bisa dilakukan jika diperlukan.

“Otot mati karena polio tidak bisa dihidupkan kembali dengan berbagai cara dan teknologi Kedokteran saat ini. Yang bisa dilakukan adalah menguatkan otot-otot disebelahnya atau memberikan alat bantuan pada kaki yang ototnya mati dengan seperti sepatu supaya dia bisa lebih mudah melakukan fungsinya,” terang Kepala Divisi Penyakit Infeksi dan Tropis Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini.

Kalau yang kena otot napasnya, di mana yang kita lihat makin lama makin sedikit gerak napasnya itu, tambah gak bisa. Maka kalua tidak diapa-apain tambah meninggal. Maka Langkah yang bisa dilakukan adalah memasang alat bantu napas. Biasanya penderita akan ketergantungan seumur hidup.

Pada kasus ringan, keluhan polio seperti flu. Diantaranya meriang, bersin-bersin, pilek dan batuk. Ini biasanya bisa sembuh dengan sendirinya setelah beberapa waktu.

Jika seseorang mengalami kelumpuhan yang masuk kategori polio yang dimonitor oleh kementerian kesehatan, mereka akan mendapatkan pemantauan. Pemantauan Ini dilakukan di seluruh dunia. Di Indonesia, monitor dilakukan oleh Kementerian Kesehatana. (Kemenkes). Pemantauan ini dilakukan agar tidak terjadi penularan.

Tim kesehatan Kemenkes baik provinsi maupun kota akan melakukan serangkaian prosedur. Mulai dari mendatangi kediamannya, meminta keterangan dan mengamati sampel feses di laboratorium, diobati dan sambal dievaluasi selama satu minggu untuk memastikan virus ada.

“Setelah kita tahu ada orang yang sakit, selain fokus pada yang sakit, maka sekitar rumahnya juga harus diperiksa. Orang yang tinggal dalam radius sekian meter, beberapa KK terutama anak-anak harus diperiksa. Lingkungan harus disurvei,” papar peneliti utama Vaksin Merah Putih ini.

Karena sifatnya yang bisa hidup di lingkungan inilah yang menyebabkan virus polio tidak bisa dimusnahkan 100 persen. Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah membuat orang kebal sehingga virusnya tidak bisa menyerang.

Sebenarnya, polio di Indonesia sudah dinyatakan tidak ada sejak tahun 2014 oleh WHO. Hal ini tak lepas dari peran besar dari imunisasi polio yang berhasil menekan kasus dari angka jutaan. Yang ada saat ini adalah gambaran yang merupakan turunan dari penyakit polio.

“Di banyak negara juga sudah tidak ada. Hanya tersisa dua negara yang masih ada polio. Antara lainAfganistan dan Pakistan,” tukasnya.

Mengenai kejadian KLB polio yang terjadi belakangan di Indonesia juga di beberapa negara, Dominicus mengatakan bahwa virus ini bukan virus dari alam liar. Seperti dikatakan sebelumnya, hanya tersisa di dua negara.

Yang terjadi saat ini merupakan virus yang ada dari vaksin yang kemudian mengalami perubahan sifat dan menular seperti virus polio dari alam liar.

“Bukan orang yang ditetes jadi lumpuh. Tetapi virus itu setelah keluar dari orang bersemayan ke tempat di lingkungan terus masuk ke orang lagi kemudian menyerang.

Ini hanya terjadi di daerah yang cakupan imunisasinya rendah. Sebaliknya, tidak akan terjadi di daerah dengan cakupan imunisasi tinggi. Dengan demikian berlaku pedoman utama imunisasi. Kalau cakupan imunisasi rendah, penyakit tidak mungkin hilang. Kalau penyakit banyak, cakupannya pasti rendah.

“Kalaupun lapornnya tinggi, itu hanya laporan. Artinya riilnya tidak banyak karena alam tidak menghianati kita. Dan orang yang sudah melakukan imunisasi tidak akan terpengaruh oleh laporan.

Penulis : Ismaul Choiriyah