April 27, 2022

Dinkes Jatim Gandeng FK UNAIR Sukseskan Program Deteksi Mandiri Penderita TBC Lewat Aplikasi

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim) menggandeng Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) untuk mempercepat temuan kasus TBC di Jawa Timur. Program percepatan ini menggunakan aplikasi E- TIBI, sebuah aplikasi deteksi mandiri TBC yang diluncurkan hari ini, Kamis (27/4). FK UNAIR ditunjuk sebagai pendamping dan membantu dalam proses sosialisasi kepada masyarakat.

Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG (K) menyatakan kesiapannya dalam mensukseskan program ini. Apalagi, FK UNAIR di bawah bimbingan Bidang III memiliki banyak program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan baik dosen dan mahasiswa, “Melalui jembatan ini, kami siap mendukung dinkes jatim dalam percepatan tracing TBC di Jawa Timur,” terang dekan.

Dekan yang akrab disapa Prof Bus menyebut, beberapa kegiatan pengabdian masyarakat yang bisa dimaksimalkan FK UNAIR dalam sosialisasi ini antara lain pengabdian masyarakat tahunan bagi semester 4 mahasiswa kedokteran FK UNAIR.

Selain itu, FK UNAIR juga memiliki Badan Koordinasi Kesehatan Masyarakat (BKKM) yang juga perannya memberikan edukasi dan pendampingan kesehatan kepada masyarakat dan dijalankan oleh dosen dan mahasiswa.

“Monggo jika aplikasi self assesment ini dititipkan ke adik-adik (mahasiswa). Karena saya yakin sesuatu yang baru perlu sosialisasi dan pendampingan,” lanjut dekan.

Kepala Dinkes Jatim, Dr. Erwin Ashta Triyono, dr., Sp.PD., KPTI., FINASIM menuturkan, Dinkes Jatim menggandeng FK UNAIR untuk memperluas kolaborasi. Bukan hanya praktisi kesehatan yang turun tangan, namun juga memaksimalkan peran mahasiswa kedokteran.

“Apalagi Prof Budi mempunyai banyak program-program pengabdian masyarakat di bidang kesehatan. Sehingga nanti diharapkan lebih optimal lagi dalam penemuan kasusnya,” tambahnya.

Semakin banyak kasus ditemukan, lanjut Erwin semakin besar dinkes jatim bisa melakukan intervensi perilaku sehingga tidak menular ke orang berikutnya. Kemudian intervensi pengobatan agar pengobatan lebih dini bisa digalakkan.

Kadinkes mentargetkan, per 2024 ditemukan kasus 90 ribu di Jawa Timur. Ini sesuai target yang ditentukan pemerintah. Hingga saat ini, temuan di Jatim masih berada di angka 45 ribu.

“Target 85 persen ditemukan di 2024. Saat ini belum mencapai itu, karenanya kami berinovasi menggunakan aplikasi ini,” tambahnya.

Sebagai gerakan awal, Dinkes akan menyasar ke komunitas penderita HIV. Karena kerentanan mereka mengidap TBC tinggi. Jika ini sudah berjana, baru akan menyasar masyarakat secara umum. (ISM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *