Agustus 11, 2022

Di Dokter Unair TV, Tiga Dosen FK Unair Bahas tentang Penyakit Hepatitis

SURABAYA – Tiga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) membahas tentang Eliminasi Virus Hepatitis dan Masa Depan Bebas Hepatitis untuk Ibu dan Anak-Anak di channel Youtube DokterUnairTV, 3 Agustus 2022.

Tiga dokter itu adalah dr Ummi Maimunah, SpPD KGEH, FINASIM dari Penyakit Dalam, Dr dr M Ilham Aldika Akbar, SpOG (K) dari Obgin dan Dr dr Bagus Setyoboedi, SpA(K) dari Ilmu Kesehatan Anak.

Seperti diketahui, hepatitis menjadi perhatian pemerintah. Pada 2030 mendatang, Indonesia mencanangkan tahun bebas hepatitis. Sehingga di tahun itu sudah tidak ada lagi penderita hepatitis di Indonesia.

Dokter Ummi Maimunah mengatakan hepatitis bermacam jenisnya. Di Indonesia ada hepatitis A, B, C, D dan E. Namun, sampai saat ini pemeriksaan untuk mendeteksi jenis hepatitis baru ada untuk jenis A, B dan C, sedangkan D dan E harus dikirim dulu ke center-center yang lebih tinggi dengan alat yang lebih canggih.

“Untuk penularannya, yang sama itu B, C dan D. Kalau hepatitis D bisa hidup di manusia kalau ada virus hepatitis B di tubuh manusia itu. Sedangkan A dan E sama penularannya lewat makanan dan minuman. Sementara B dan C melalui darah atau kontak darah,” jelas dr Ummi.

Dengan penularan itu, siapa pun bisa terkena penyakit ini. Tenaga kesehatan juga rentan terkena, bahkan ibu hamil dengan hepatitis B terutama sangat besar menularkannya pada janinnya.

“Ibu terkena hepatitis B, 90 persen bisa menularkannya ke janin atau bayinya, sehingga ini yang kini menjadi konsern pemerintah untuk menghentikan angka penularan itu,” tandasnya.

Menambahkan dr Ummi, dr Ilham Aldika mengatakan ibu hamil dengan hepatitis B akan menularkannya pada si anak. Namun, sampai saat ini belum ada skrining khusus janin di dalam kandungan terdeteksi tertular hepatitis dari ibunya.

“Tapi kalau ibunya sudah positif, ketika lahir si bayi juga sudah pasti tertular. Karenanya ini yang sekarang sedang digalakkan pemerintah untuk mencegah agar bayi tidak tertular sang ibu sehingga pada 2030 Indonesia bisa bebas hepatitis,” jelas dr Ilham.

Karena itu, pemerintah melakukan skrining yang luar biasa pada ibu hamil untuk mendeteksi tiga penyakit yang angka penularan pada bayi sangat tinggi salah satunya hepatitis. “Karenanya ketika terdeteksi positif, maka ibu hamil itu terus kita pantau. Kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit dan juga akan konsul ke dokter penyakit dalam.

Bahkan ketika bayi lahir, dokter akan terus memantau perkembangan si bayi hingga mendapatkan vaksinasi hepatitis ini.

Biasanya jika ketahuan positif hepatitis, maka dokter akan melakukan terapi pada ibu hamil tersebut dengan obat-obatan. Pada bayinya sejak nol hari  itu akan diberi obat anti virus hepatitis antara waktu 12 jam hingga 24 jam setelah dilahirkan hingga diberi vaksin hepatitis sebanyak tiga hingga empat kali. Sehingga dengan cara ini, 95 persen bisa mengurangi bayi tertular hepatitis dari ibunya.

Sementara itu, dr Bagus Setyoboedi, SpA(K) dari Ilmu Kesehatan Anak mengatakan penularan hepatitis dari ibu ke anak sampai saat ini masih menjadi problem di seluruh dunia. Di Indonesia juga masih sangat tinggi, sehingga program pemerintah untuk memberantasnya harus menyeluruh dan terus menerus. “Kalau ini tidak dicegah, maka 90 persen akan menjadi kronis,” tandasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *