Mei 22, 2024

Deteksi Dini Atresia Bilier dengan Kartu Warna Tinja di Probolinggo

PPDS-1 Ilmu Kesehatan Anak, dr Winda Trisnawati Utami melakukan sosialisasi kartu warna tinja untuk deteksi dini atresia bilier di Puskesmas Kedopok, Probolinggo pada Selasa, 21 Mei 2024. Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan sosialisasi deteksi dini atresia bilier pada bayi yang dilakukan oleh Divisi Hepatologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya setelah dari Sidoarjo, Jombang, Magetan, Yogyakarta hingga Pulau Kangean, Sumenep.

Atresia bilier dapat menyebabkan gagal hati kronis jika terlambat ditangani dan merupakan penyebab utama transplantasi hati pada anak. “Seringkali di masyarakat kita, bayi kuning dianggap hal yang wajar, padahal ada hal tertentu yang harus diperhatikan pada bayi kuning. Tidak semua bayi kuning akan sembuh dengan sendirinya,” ujar dr. Winda Trisnawati Utami. Pada umumnya, bayi dapat mengalami jaundice atau kuning hingga berusia 14 hari. Jika bayi masih tampak kuning pada usia lebih dari 14 hari atau disebut dengan prolonged jaundice, maka evaluasi kadar bilirubin direk dan total perlu dilakukan untuk memastikan ada tidaknya kolestasis atau peningkatan kadar bilirubin direk. Kolestasis adalah kondisi adanya gangguan aliran empedu yang bisa disebabkan karena atresia bilier. Tatalaksana atresia bilier perlu dilakukan sebelum usia 2 bulan, sedini mungkin, untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal. Oleh karena itu, deteksi dini atresia bilier harus dilakukan oleh semua tenaga kesehatan.

Pembagian buku deteksi dini atresia bilier pada bayi

Gejala atresia bilier antara lain kuning yang berkepanjangan, urin berwarna gelap, tinja berwarna pucat atau tinja akolik, hingga pembesaran organ (seperti hepatomegali). Tinja berwarna pucat adalah salah satu gejala khas atresia bilier. “Pada awal kuning, warna tinja tidak selalu tampak pucat, namun seiring waktu pada umumnya tinja berwarna semakin memudar hingga putih. Oleh karena itu, pada semua bayi yang tampak kuning, pemantauan warna tinja perlu dilakukan”, ucap Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K) selaku kepala divisi hepatologi. Kartu warna tinja “lokal” yang dibuat bertujuan untuk membantu deteksi dini atresia bilier. Jika didapatkan bayi kuning lebih dari 2 minggu atau bayi kuning disertai perubahan warna tinja menjadi lebih pudar dari sebelumnya (jangan menunggu hingga putih) maka evaluasi kadar bilirubin direk dan total pada darah perlu dilakukan untuk memastikan apakah didapatkan peningkatan kadar bilirubin direk. Jika kadar bilirubin direk > 1 mg/dl maka disarankan rujukan ke fasilitas kesehatan lanjutan.