April 5, 2024

Delegasi Mahasiswa PPDS-2 Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR – RSUD Dr. Soetomo dalam The 33rd APASL 2024 Kyoto – Jepang

dr. Novi Rahayu Arianti, Sp.A dan dr. Muhammad Irawan, M.Biomed, Sp.A, merupakan dokter spesialis anak yang sedang melanjutkan pendidikan subspesialis gastrohepatologi di bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIRRSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Mereka menjadi dua delegasi yang mengikuti konferensi tahunan The 33rd Annual Meeting of the Asian Pacific Association for the Study of the Liver “APASL 2024 Kyoto – The Center of Hepatology pada 27-31 Maret 2024 lalu di Kyoto, Jepang.

Pada APASL 2024 Kyoto, dr. Novi dan dr. Irawan mengangkat penelitian tentang atresia bilier. Atresia bilier merupakan penyebab utama transplantasi hati pada anak dan memiliki angka mortalitas yang tinggi, terutama jika terlambat ditangani. Atresia bilier masih menjadi tantangan dunia karena deteksi dini dan diagnostik cukup sulit pada anak.

Dalam pertemuan tahuan yang digelar pada musim semi di negara sakura tersebut, terdapat beberapa agenda kegiatan seperti konferensi dengan speaker internasional, sesi pleno, simposium, presentasi oral dan poster, hingga launching panduan WHO tentang inovasi diagnostik dan rekomendasi terapi Hepatitis B tahun 2024. Saat presentasi oral, dr. Novi mempresentasikan hasil studinya tentang pemberian steroid pada atresia bilier. Pada kesempatan yang sama, dr. Irawan membawakan studi tentang peran Matrix metalloproteinase-7 (MMP-7) pada atresia bilier.

“Atresia bilier hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan. Walaupun operasi Kasai telah dikenal cukup lama sebagai terapi atresia bilier, tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia bisa melakukan operasi Kasai dan hasilnya tidak selalu memuaskan. Keberhasilan operasi Kasai untuk melancarkan aliran empedu pada atresia bilier dipengaruhi oleh banyak faktor. Keterlambatan rujukan atresia bilier juga masih cukup banyak kita dapatkan. Oleh karena itu, deteksi dini dan peluang terapi yang mudah diterapkan di semua fasilitas kesehatan serta memberikan hasil yang optimal masih menjadi tantangan”, ucap Dr. dr. Bagus Setyoboedi, SpA(K), Kepala divisi hepatologi, Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr. Soetomo – FK UNAIR selaku pembimbing.

Penelitian terkini dilakukan untuk mencari peluang marker diagnosis yang lebih mudah dilakukan, non–invasif, dan memberikan hasil yang lebih dini. Deteksi dini meningkatkan hasil yang lebih baik pada luaran anak dengan atresia bilier. Selain itu, peluang terapi baru untuk membantu memperbaiki aliran empedu masih sangat dibutuhkan dalam menghindarkan anak dari kebutuhan transplantasi hati.