Oktober 25, 2022

Cari Solusi Kekurangan Dokter, Kemenkes Adakan Workshop AHS Regional 5

Universitas Airlangga jadi Koordinator workshop rencana Academic Health System (AHS) Regional 5 di Surabaya. Kegiatan berlangsung selama tiga hari pada tanggal 20 – 22 Oktober 2022. Melalui ini diharapkan ditemukan strategi bersama untuk memenuhi kebutuhan dokter dan dokter spesialis di Indonesia.

Workshop diikuti oleh seluruh dekan fakultas kedokteran dari Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Turut hadir juga perwakilan dari rumah sakit pendidikan dan dinas kesehatan sebagai komponen penting dalam penegakan AHS.

Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Santoso, dr., Sp.OG, Subs. F.E.R. mengatakan, kegiatan ini menindaklanjuti Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dan Menteri Kesehatan Nomor 02/KB/2022 dan HK.01.08./MENKES/1269/2022. Diterbitkan tanggal 12 Juli.

Isinya tentang peningkatan kuota penerimaan mahasiswa program sarjana kedokteran dan PPDS. Serta penambahan program studi dokter spesialis melalui Program Academic Health System (AHS).

Mengacu standar WHO, perbandingan antara dokter dan penduduk adalah 1 :1000 penduduk. Jika di Indonesia terdapat 270 juta penduduk, idealnya jumlah dokter saat ini adalah 270 ribu dokter. “Saat ini, jumlah dokter umum di Indonesia masih berada di angka 140 ribu. Artinya Indonesia masih membutuhkan 130 ribu dokter umum lagi,” terangnya.

Sementara rasio dokter spesialis ideal mengacu pada masing-masing program studi (prodi). Beberapa mensyaratkan 30-40 : 100 ribu penduduk. Beberapa mensyaratkan 50 : 100 ribu.

“Sebagai perbandingan dari spesialis Obgyn, sekarang yang ada di Indonesia hanya 4 ribu sekian. Tentu angka tersebut masih sangat rendah,” lanjutnya lagi.

Karenanya, jika program AHS ini berjalan dengan baik, masalah kekurangan dokter dan persebarannya ini bisa tertangani.

FK UNAIR menjadi satu dari 5 fakultas kedokteran di Indonesia yang menjadi percontohan AHS. Selain Universitas Hasanuddin, UGM, UI.

Implementasi AHS di UNAIR sendiri sudah berjalan lama sebelum program ini dimunculkan oleh Kemenkes pada 2017 lalu. Di mana UNAIR telah menjalin kolaborasi yang sangat baik dengan RSUD Dr. Soetomo sebagai rumah sakit pendidikan utama sebagai sarana belajar serta memberikan pelayanan kesehatan pada masyarakat.

Hal ini disampaikan Rektor UNAIR, Prof. Dr. Moh. Nasih,S.E., MT.MM. “Selain berkolaborasi dengan rumah sakit, kami juga berkolaborasi antar fakultas serta pemerintah. Karena pada hakikatnya kita tidak bisa bergerak sendiri,” terangnya.

Beberapa solusi yang ditawarkan oleh rektor dalam menjawab probem kekurangan dokter dan spesialis diantaranya adalah dengan membuka prodi baru. Fakultas kedokteran dari daerah manapun bisa mendirikan program studi baru dengan syarat fakultas tersebut sudah terakreditasi A atau unggul.

“Ini akan menjawab persoalan pemerataan persebaran dokter juga. Karena mereka akan belajar di daerah dan diharapkan juga mengabsi di daerah,” tambahnya.

Selain itu untuk merekrut dokter untuk menjadi dosen ber NIDK. Sehingga mereka bisa menjadi tenaga ahli untuk mendidik mahasiswa kedokteran.

“Sebagai timbal balik dokter-dokter tersebut kami fasilitasi untuk bisa mengurus jabatan akademis tertinggi, seperti guru besar,” tambahnya.

Upaya ini sudah berjalan dengan baik di FK UNAIR dan harapannya bisa diadaptasi di FK lain,” tukasnya. (ISM)