Agustus 11, 2022

Alasan Mulia Dibalik Pengabdian 14 Dokter Baru Menjadi Ko-Instruktur

Terus memperbaharui pengetahuan jadi motivasi utama 14 ko-instruktur baru FK UNAIR untuk mengabdi kepada almamaternya. Ini disampaikan oleh Ketua ko-instruktur angkatan ke 16, Dokter Archie Arman Dwiyatna.

“Karena ilmu yang diajarkan seputar itu saja ya. Mulai dari tramed 1. Sedangkan saat ini kita sebagai klinisi sudah pasti jarang terpapar materi tramed. Ini jadi motivasi kami menjadi ko instruktur,” terangnya.

Tak hanya pengetahuan dalam kedokteran saja. Namun kemampuan berkomunikasi dan kepemimpinan juga otomatis didapatkan dari menjadi ko-instruktur ini. Karenanya, proses ini juga bisa menjadi sarana persiapan bagi lulusan dokter dari FK UNAIR yang ingin mengembangkan karir sebagai dosen nantinya.

Archie menuturkan, perjalanan menjadi ko instruktur cukup panjang. Sebelum dilantik ini, peserta melakukan pendaftaran yang sudah dibuka sejak bulan Februari lalu. Kemudian mereka menjalani serangkaian tes dari tulis hingga wawancara.

Tak berhenti di situ, para ko instruktur ini juga mendapatkan pembekalan materi. Baik materi teori dan materi pedagogi. Mereka juga menjalani ujian mengajar sebelum membina mahasiswa S1 Kedokteran.

Ko instruktur ini merupakan pengabdian seumur hidup. Sekali menjadi ko instruktur, maka selamanya mereka akan menjadi keluarga ko instruktur.

“Jadi ko instruktur angkatan sebelum-sebelumnya juga selalu berkontribusi. Kita sistemnya bagi tugas. Siapa yang luang saat itu dan bersedia ya nanti yang bertugas,” terangnya.

Dokter Robby Azhari, Wakil Ketua Ko Instruktur Angkatan 16 juga memberikan tanggapan yang sama. Bersama teman-temannya bisa menjadikan proses pembelajaran lebih santai dan luwes.

“Ko-instruktur tramed bertindak sebagai peer-approach. Yang artinya adalah menjadikan pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan karena lebih sebaya, lebih dekat, lebih bersahabat, sehingga diharapkan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti di kalangan mahasiswa, namun tetap terstandar,” tambahnya.

Harapannya, tercipta komunikasi aktif antara mahasiswa dengan Ko-Instruktur. Mahasiswa tidak canggung untuk bertanya, karena mengganggap ko-instruktur ini adalah kakak yang membantu mereka dalam proses menjadi seorang dokter yang handal di kemudian hari.

“Saya pernah membaca dari sebuah buku, bahwa anamnesis dan pemeriksaan fisik saja sudah bisa menegakkan diagnosis. Oleh karena itu kita harus mempertajam keilmuan ini untuk menjadi seorang dokter. Tanpa keterampilan medis, kita tidak akan bisa melakukan praktik kedokteran. Tanpa keterampilan medis kita tidak tahu harus bertindak apa di depan pasien,” paparnya.

Tak hanya mendampingi mahasiswa dalam tramed, ko instruktur juga berperan mendampingi mahasiswa dalam menyiapkan ujian nasional praktek kedokteran.

Pun dalam aktivitas skills lab lainnya seperti hospital visit, ujian tramed, ujian osce, pengembangan skill lab. (ISMA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *